Scene 1

Narator             : Di sebuah desa kecil, orang-orang telah bersiap untuk menyambut natal. Beberapa di antara mereka, ada yang menghias pohon natal, membersihkan seluruh rumah. Namun, tidak bagi anak-anak. Mereka sibuk bermain di luar. Menari-nari dengan salju. Terlalu sibuk bermain sehingga mereka lupa akan waktu. Mereka terus bermain dan bermain hingga ibu mereka masing-masing memanggil mereka.

Anak-anak        : (bermain)

Ibu 1                 : (masuk kepanggung, mencari-cari anaknya di antara anak-anak dan berteriak) Sean! Sean!

Sean                 : (berhenti bermain dan berlari ke arah ibunya)Adaapa, ma?

Ibu 1                 : Ayo pulang. Ini sudah sore.

Sean                 : Tapi, ma…., (merengek)

Ibu 1                 : Nggak ada tapi-tapi’an. Ayo pulang. Kamu mau dimarahi papamu?

Sean                 : Urgh…., (menggerutu, berteriak) teman-teman, aku pulang dulu, ya?!

Anak-anak        : Iya! (menjawab tak acuh sembari terus bermain)

Ibu 2                 : Emily! Elena!

Emily & Elena   : (memandang ke arah ibu mereka)

Ibu 2                 : Ayo pulang!

Emily & Elena   : (saling berpandangan lalu mulai meringkas mainan mereka) Iya, bu! (berlari ke arah ibu mereka sembari membawa mainan-mainan mereka)

Billy                  : Hey, teman-teman. Udah sore nih, kita pulang, yuk?!

Nathan             : Halah, kamu ini Billy. Memang dasarnya kamu itu penakut. Masa masih terang begini di bilang udah sore?

Billy                  : Bukannya aku penakut tapi, kata mamaku, di dalam hutan dekat sini, ada penyihir jahatnya.

Nathan             : Itu semua bohong tau nggak. Cerita buat anak kecil gitu aja dipercaya.

Rhea                : Tapi, mamaku juga cerita gitu ke aku.

Nathan             : Ah, kalian ini, penakut tau nggak. Kalau mau pulang, pulang ajasana.

Rhea                : Ya udah. Aku mau pulang aja. Daripada nanti ketemu sama penyihir itu! Hati-hati aja ya Nathan. Nanti, kamu bisa ditangkep sama penyihir itu. Hiii…., (bergidik ngeri) Aku pulang dulu ya, semuanya. (berjalan pulang)

Billy                  : Lho, Rhea! Tunggu! Aku ikut! (berlari mengikuti Rhea)

Nathan             : Huh, mereka itu penakut semuanya. Kita main lagi, yuk.

Anak-anak        : (bermain kembali)

Narator             : Mereka terus bermain dan bermain. Mereka larut dalam kesenangan dan lupa akan segalanya hingga, langit menjadi semakin gelap dan salah satu dari mereka mulai kedinginan.

Leon                 : Nathan, aku kedinginan, nih.

Nathan             : Kamu ini gimana sih,Leon? Namanya salju ya dingin. Api tuh, yang panas. Masa kamu nggak tau?

Leon                 : Ya. Aku tau. Tapi, aku udah gemeteran kaya’ gini masa’ masih mau main lagi?

Keith                : Iya, lagipula, udah mulai gelap nih!

Nathan             : Iya, sih. Tapi, aku masih mau main, nih. Main lagi ya. Sebentar aja.

Keith                : Iya deh.

Leon                 : Tapi, sebentar aja, ya.

Anak-anak        : (bermain lagi. Lalu tiba-tiba, Keith dengan tak sengaja melempar bolanya terlalu keras hingga masuk ke dalam hutan)

Leon                 : Kamu ini gimana sih, Keith? Masa’ ngelempar bola aja nggak bisa? Malah masuk ke hutan lagi.Kanbahaya. Lagipula, udah mulai gelap, nih.

Keith                : Yah, akukannggak sengaja.

Nathan             : Kamu ini. Aku nggak peduli gimana caranya, kamu harus ngambil tuh bola.

Keith                : Eh, gila ya kamu? Inikan udah gelap. Bisa-bisa, aku tersesat.

Nathan             : Ya salah kamu sendiri. Lagipula, itukan bukan bolamu. Itukan bolaku dan yang akan dimarahi sama papaku aku bukan kamu kalau sampai bola itu hilang. Bola itu, limited edition tau nggak! Harganya lima juta! (melipat kedua lengannya didepan dada)

Leon                 : Wieh, lima juta? Bolaku aja cuma lima ribuan. (mengacungkan bolanya)

Anak-anak        : (tertawa kecuali Nathan & Keith)

Nathan             : Ayo ambil bolaku! (sedikit membentak)

Keith                : Iya-iya! Tapi, temani aku ya…., (menyunggingkan senyuman memohon)

Leon                 : Iya, deh. Aku temani. Wajahmu itu bikin aku kasihan.

Keith                : Lho, emang kenapa wajahku?

Leon                 : Seperti adikku waktu lagi kebelet ke toilet.

Keith                : Ah, kamu ini. Makasih lho, pujiannya. Tapi, biasanya orang itu muji orang lain kalau mereka ngerasa udah pernah melakukan atau mendapat hal yang sama. Jadi, kamu juga pernah kaya’ aku yang sekarang ini. Makanya, sesame pemilik muka jelek and melas jangan saling mengejek.

Nathan             : Eh, kalian ini gimana sih? Kok malah ngobrol? Ayo cepet cari bolaku.

Leon & Keith    : (saling berpandangan lalu berkata) kami nggak mau nyari kalau kamu nggak ikut nyari juga.

Nathan             : Siapa yang ngilangin siapa yang repot!

Leon                 : Udah nggak usah berkilah gitu donk. Bilang aja kamu takut. Kamu takut, kan?

Nathan             : Siapa bilang aku takut?

Keith                : Makanya, ayo ikut.

Nathan             : Boleh boleh aja sih. Tapi, kalau mereka mereka ini juga ikut! (mengacungkan jarinya ke satu per satu anak yang masih ikut bermain dengan mereka dari tadi)

Anak-anak        : Bola kamu yang hilang kok kami yang repot? Lagipula, kami nggak ikut-ikut.

Nathan             : Tapi, kalian juga ikut main pake bola aku, kan?

Anak-anak        : (diam)

Nathan             : Nggak bisa jawab, kan? Makanya, ayo!

Anak-anak        : Iya-iya. Urgh, ngerepotin aja. (mulai berjalan ke arah hutan)

Kathleen           : (berbisik pada Meredith) Hey, Meredith. Kita pulang aja, yuk. Lagipula, cuma kita aja yang cewek disini.

Meredith           : Tapi, gimana sama Kak Keith?

Kathleen           : Ih, kita tinggal aja dia. Lagipula, nanti kita dimarahin sama mama kalau nggak cepet pulang.

Meredith           : Kalau gitu, kita ajak Stefan juga ya?

Kathleen           : Iya deh. Ayo cepetan sana.

Meredith           : (berlari menarik Stefan yang ada di belakang rombongan)

Stefan               : Ada apa sih, Meredith?

Meredith           : Pulang aja, yuk.

Stefan               : Nggak ah. Aku mau ikut mereka aja. Nanti, aku dikatain penakut kalau aku nggak ikut. Apa kata dunia coba?

Meredith           : Kamu ini. Udah ayo pulang aja.

Stefan               : Nggak mau.

Meredith           : Ayo.   (menyeret Stefan untuk pulang)

Kathleen           : (berlari ke arah Meredith dan membantunya) Ayo pulang!

Stefan               : Nggak mau. Nggak mau!

Kathleen           : Pokoknya ayo pulang! (menyeret Stefan bersama Meredith hingga keluar panggung)

Scene 2

Narator             : Nathan dan teman-temannya menjelajahi hutan untuk menemukan bolanya. Mereka tak menyadari bahwa tak jauh dari mereka berdiri sebuah rumah kecil. Tempat yang tak dapat diduga bahwa itu adalah rumah dari 3 penyihir jahat. Penyihir pertama adalah pemimpinnya. Ia terkenal yang paling jahat diantara semua saudaranya. Ia bernama Zaford.

Zaford              : Mallory! Slaven!

Mallory             : (datang sembari membawa satu toples berisi bubuk sihir dan meletakkannya di atas meja) Apa sih, kak?

Zaford              : Mana Slaven?

Mallory : Kemana lagi? Ya pasti ke…..,

Slaven              : (datang) Hai, semuanya. Lihat apa yang aku temukan! (mengacungkan bola milik Nathan)

Mallory             : (mengambil bola dari tangan Slaven kemudian mengamatinya dan lalu tersenyum sinis) Rupanya, ada yang tersesat, hah?

Zaford              : Ada manusia yang masuk ke hutan. Kita harus memberi mereka pelajaran. Ayo, cepat ambil tongkat sihir kalian masing-masing. Kita akan menculik mereka.

Slaven              : Tapi, kukira….,

Mallory             : Sudahlah, dik. Dengarkan saja Kak Zaford.

Slaven              : Terserahlah. (mengambil tongkat sihirnya)

Zaford              : Ayo temukan mereka!

Penyihir            : (berjalan keluar panggung)

Keith                : Nathan, kaya’nya, kita nyasar deh.

Leon                 : Bukan kaya’nya lagi. Ini sih, emang beneran nyasar.

Nathan             : Enggak. Kita enggak nyasar. Kita nggak boleh nyasar.

Keith                : Aduh. Ini belok kanan atau kiri?

Nathan             : Kanan! Ayo belok kanan.

Leon                 : Yakin?

Nathan             : Udah percaya aja deh sama aku.

Anak-anak        : (semuanya belok kearah kanan dan keluar dari panggung)

Mallory             : Tuh-tuh mereka belok ke kanan.

Zaford              : (tertawa sinis) dasar anak-anak bodoh. Mereka hanya berputar-putar saja dari tadi.

Slaven              : Gimana kalau kita takut-takuti mereka dulu sebelum kita culik?

Mallory : Ide yang bagus. Tumben otakmu jalan?

Slaven              : Ih, nyebelin banget sih responnya.

Zaford              : Udah. Ayo kita takut-takuti mereka.

Penyihir            : (berjalan keluar panggung mengikuti arah keluarnya anak-anak)

Anak-anak        : (masuk ke panggung, terlihat lelah) Aduh, capek nih. Istirahat dulu ya.

Nathan             : Istirahat? Kalo mau istirahat tuh, nanti di rumah.

Anak-anak        : Tapi aku capek lagipula, inikan udah malem.

Leon                 : Iya lagipula, kita udah lewat tempat ini 10 kali. Kita tuh, cuma muter-muter aja dari tadi.

Keith                : Iya. Kamu tuh. Benernya tahu jalan nggak sih?

Nathan             : Sebenernya aku nggak ngerti. Tapi, aku yakin kok kalo jalan keluarnya itu kearah kanan.

Anak-anak        : Ah, yakin. Yakin. Kita tersesat sekarang. Semua ini, gara-gara kamu. Coba kalau kita nggak nyari bolamu.

Keith                : Udah. Udah nggak usah nyalahijn orang. Toh, siapa yang suruh kalian mau ikut nyari bolanya. Kita nggak maksa kalian kan. Kalian sendiri yang mau ikut.

Penyihir            : (Masuk meggunakan kostum hantu)

Leon                 : (Melihat kearah kegelapan merasa ada yang aneh) Apa’an itu?

Anak-anak        : Mana? Mana?

Leon                 : Itu! Itu! (menunjuk kearah Zaford dan Slaven yang berkostum hantu)

Anak-anak        : Mana?

Mallory             : (tiba-tiba muncul di belakang mereka dan menakut-nakuti mereka demikian juga Zaford dan Slaven)

Anak-anak        : Argh………, Arghhh……., Hantu! (ketakutan, berlari kesana kemari karena di kejar oleh para penyihir lalu keluar panggung)

Scene 3

Narator             : Sementara itu, warga desa sibuk mencari anak mereka yang tak pulang. Mereka panik karena hari telah gelap dan anak mereka tak kunjung pulang. Warga desa sibuk memanggil nama anak mereka masing-masing suar panik bersautan. Hingga mereka melihat Kathleen dan Meredith serta Stefan yang sedang berjalan pulang.

Ibu 3                 : Meredith! Stefan! (berlari kearah anaknya) Kalian nggak apa-apa?

Ayah 1             : Kathleen! (berlari ke anaknya) Kamu kemana aja? Kamu nggak apa-apa, kan?

Ayah 2             : (berjalan mendekati Sefan) Stefan, dimana Nathan?

Stefan               : Nathan tadi pergi ke hutan.

Ayah 2             : Hutan! Kamu yang bener?

Stefan               : Iya. Yang lainnya juga pergi ke hutan buat nyari bolanya Nathan.

Warga desa      : Apa? Harus bagaimana ini? Apa yang harus kita perbuat? Bagaimana jika mereka bertemu dengan ke-3 penyihir jahat itu? (Panik)

Ibu 4                 : Oh, bagaimana ini? Keith. Bagaimana jika dia…., (sedih, panik, cemas)

Ibu 3                 : Udah. Tenang, bu. (menenangkan Ibu 4)

Ibu 4                 : Bagaimana aku bisa tenang? Sementara anakku saja aku sendiri tak tau bagaimana keadaannya saat ini?

Ayah 1             : Bagimana jika kita meminta bantuan 2 penyihir baik yang ada di gunung dekat desa ini saja?

Warga desa      : Iya. Iya betul. Kita kesana saja. Ayo kesana. (berjalan keluar panggung)

Scene 4

Anak-anak        : (terbangun dengan keadaan terikat satu sama lain) Lho, kok diikat? Tolong! Tolong! Tolong!

Mallory             : Diam!

Anak-anak        : (terdiam kecuali Nathan)

Nathan             : Tolong! Tolong! To…., (suara Nathan hilang setelah Mallory mengarahkan tongkat sihir kearahnya)

Zaford              : Bagaimana rasanya disini anak-anak? (tersenyum kejam)

Anak-anak        : Kumohon lepaskan kami. Bebaskan kami. Lagipula, besokkan natal. Bukankah kita saling berbagi kasih saat natal?

Zaford              : Natal? Memangnya apa peduliku tentang natal itu?

Slaven              : Apa itu natal?

Mallory             : Ya, apa itu natal?

Keith                : Kalian…, klian tidak tau natal?

Slaven              : Apa natal itu?

Leon                 : Natal itu, saat dimana kita berbagi kasih dan bertukar kado dan bermain salju.

Keith                : Natal itu, waktu kita menghias pohon natal dan main salju.

Anak 1             : Natal itu, dimana kita bergembira dan bermain seharian. Main salju. Main bareng temen.

Anak 2             : Natal adalah sumber kebahagiaan.

Zaford              : Jadi, gitu, ya. Ternyata natal adalah sumber kebahagiaan. Lalu, bagaimana jika kami mengambil salju di hari natal? Apakah itu akan tetap membuat kalian senang?

Mallory             : Tampaknya tidak! (tertawa bersama Zaford)

Zaford              : (mengambil bubuk sihir dan melemparkannya ke atas) Salju-salju. Wahai salju musim dingin, demi seluruh iblis yang ada di neraka, menghilanglah dari seluruh muka bumi ini. Menghilanglah. Menghilanglah.

Narrator           : Lalu, seketika hujan saljupun berhenti dan salju di luar ruangan mulai mencair. Salju di dahan-dahan pohon menghilang perlahan. Setelahnya, diikuti oleh salju-salju yang berada di tanah. Seketika, salju menghilang sari semua pandangan mata. Hanya tinggal tanah kering dan tumbuhan yang tak berdaun.

Zaford              : (tertawa licik)

Mallory             : Jadi, bagaimana natal kalian?

Leon                 : Natal tanpa salju memang tak biasa. Tapi, kami masih bisa berbagi kebahagiaan dengan makan bersama dan bertukar kado.

Zaford              : Apa? Kalau begitu, bagaimana jika semua makanan dan kado hilang dari muka bumi ini? Dan segala bentuk kebahagiaan lenyap?

Keith                : Oh, dasar Leon bodoh. Tutuplah mulut bodohmu itu. Jangan bicara lagi.

Mallory             : Lenyapkan saja semuanya, kak.

Zaford              : (mengambil bubuk sihir dan melemparkannya ke atas)Seluruh kebahagian. Wahai semua kebahagian. Segala bentuk kebahagian, hilang. Hilang, lenyaplah. Lenyaplah dari muka bumi ini. Hilanglah! (tiba-tiba terjatuh dan terbatuk)

Penyihir            : (segera menghampiri Zaford dan membantunya berdiri)

Slaven              : Kakak nggak apa-apa, kan?

Zaford              : Demi iblis kecil yang ada di nereka. Apa yang membuat sihirku tak mampu melenyapkan kebahagiaan ini?

Slaven              : Mungkin caranya salah.

Mallory             : Tidak mungkin. Sihir Kak Zaford selalu berhasil. Mungkin kebahagiaan ini terlalu kuat. Kita harus mencari cara lain untuk melenyapkannya.

Leon                 : (tertawa mengejek)

Mallory             : Hey, berani-beraninya kau tertawa. Apa yang lucu?

Leon                 : Tidak ada. Tapi, kurasa kali ini, kalian tak akan berhasil. Kebahagiaan terlalu banyak dimiliki oleh seluruh manusia. Kalian tak mungkin berhasil melenyapkannya. Hati kami, selalu penuh dengan kebahagiaan.

Zaford              : Hati? Jadi, itu, ya kelemahannya.

Keith                : Leon bodoh. Sudah kubilang jangan ngomong apa-apa.

Leon                 : Lho, akukan nggak tau apa-apa.

Zaford              : Hei, anak kecil bagaimana jika aku menghilangkan kebahagian dimulai dari hati umat manusia? Bereskan mereka Mallory! (tersenyum kejam dan keluar panggung)

Mallory             : Selamat tinggal untuk selamanya anak-anak! (melemparkan bubuk sihir dan anak-anak meninggalkan panggung meninggalkan masing-masing anak sebuah boneka. Mallory tertawa)

Penyihir            : (meninggalkan panggung)

Scene 5

Warga desa      : (masuk panggung, menyebrang panggung dan berhenti di seberang panggung, berpura-pura mengobrol satu sama lain dengan wajah panik)

Evabell             : (berjalan masuk ke panggung bersama Emiola) Emiola, firasatku mengatakan bahwa kita akan kedatangan tamu.

Emiola              : Hmmm, tampaknya firasatmu benar. Lihat warga desa itu.

Evabell             : Ayo, cepet dikit jalannya. Aku penasaran ada apa.

Emiola              : Iya. Iya. (berjalan cepat-cepat kearah warga desa)

Warga desa      : Nah, itu mereka. (berjalan kearah Evabell dan Emiola. Bertemu di tengah panggung)

Emiola              : Ada apa ini?

Ibu 4                 : Emiola, tolong bantu kami. Anak-anak kami, mereka masuk ke dalam hutan. Mereka tak kembali hingga saat ini. Bantulah kami. Kumohon.

Evabell             : Apa? Mereka masuk ke dalam hutan itu? Mengapa mereka…., Apa yang mereka pikirkan? Berani-beraninya menginjakkan kaki kedalam hutan itu.

Ayah 2             : Kumohon, bantulah kami. Penyihir-penyihir itu pasti telah menculik anak kami hingga mereka tak pulang dan salju yang menghilang saat ini, pasti juga adalah perbuatan mereka.

Emiola              : Hmmm, ternyata rival lama, ya. Bisa jadi memang mereka yang melakukannya. Tapi, kami harus menyelidikinya dulu.

Warga desa      : Bantulah kami. Kami mohon. Hanya kalianlah harapan kami. Kami menggantugkan harapan kami ini hanya pada kalian. Siapa lagi yang bisa kami mintai bantuan selain kalian?

Evabell             : Baiklah. Kami akan membantu kalian.

Warga desa      : Terima kasih. Terima kasih.

Emiola              : Iya, sama-sama. Sekarang, kalian pulanglah. Kalian pasti lelah.

Warga desa      : Sekali lagi, kami ucapkan terima kasih, Evabell, Emiola. (Evabell dan Emiola tersenyum lalu, warga desa pergi meninggalkan panggung)

Scene 6

Slaven              : (masuk ke panggung dengan raut wajah gelisah lalu berhenti di tengah panggung dan berjalan mondar-mandir, gelisah)

Emiola              : (masuk ke panggung) Ada apa, Slaven?

Slaven              : Emiola! Senang kau mau menemuiku.

Emiola              : Ada apa?

Slaven              : Gawat! Ini masalah yang gawat. Tak seperti sebelumnya.

Emiola              : Iya aku tau. Tapi, apa masalahnya?

Penyihir            : (masuk ke panggung dan bersembunyi. Penyihir baik di kanan panggung. Penyihir jahat di kiri panggung)

Slaven              : Kakakku. Kakakku. Dia berencana untuk membuat semua orang menjadi zombie di hari natal.

Emiola              : Zombie?! Apa maksudnya untuk berbuat demikian?

Slaven              : Kakakku ingin menghilangkan kebahagiaan dari seluruh orang di muka bumi ini dengan mengubah mereka semua menjadi zombie. Kau taukan. Zombie. Zombie hidup tapi, mereka tak bisa merasakan apapun.

Emiola              : Lalu, bagaimana cara mencegah perbuatan mereka itu?

Slaven              : Hanya ada satu cara. Kalian, harus mencuri…..,

Penyihir            : (Para penyihir jahat keluar dari tempat persembunyian selagi Slaven berbicara)

Zaford              : Slaven! (marah)

Slaven              : (terkejut, berbalik) Ka…., Ka…., Kak Zaford?

Zaford              : Dasar! Pengkhianat! Kau! Ternyata kau yang selama ini membocorkan semua rencana kita?! Adikku sendiri tega berbuat rendah seperti ini? Kau yang selama ini, membocorkan semuanya kepada penyihir cewek rendahan itu, ya? Tak aku sangka selama ini kau berbuat hal hina seperti ini! (tersenyum ironis)

Evabell             : (keluar dari tempat persembunyiaanya) Kurasa, kau sendiri yang berbuat hal-hal hina, Zaford!

Zaford              : Evabell? Bagaimana…., Oh, rupanya kau sekarang bergabung dengan penyihir rendahan itu, hah? Aku jadi kasihan padamu. Kau pasti sangat menderita sekarang.

Evabell             : Setidaknya aku telah berbuat hal baik. Tak sepertimu. Dari dulu hingga detik ini, hatimu masih tertutup kabut tebal dari rasa dengki yang tak berkesudahan.

Zaford              : (geram) Diam! Kita lihat saja nanti siapa yang akan menang! Aku pasti akan berhasil melenyapkan semua kebahagiaan di dunia ini. Lalu, umat manusia akan hidup dalam kesuraman dan ketakutan yang amat sangat dan kau, kau, kau akan kembali bergabung bersama kami, Evabell. Seperti dulu, kau melenyapkan semua hal indah bersama kami.

Evabell             : Aku tak sudi kembali bergabung dengan kalian. Lebih baik, aku mati saja.

Zaford              : Oh, kalau begitu, kita lihat saja nanti. Nanti, kau tidak akan berpikiran seperti itu lagi.

Evabell             : Baiklah. Kita lihat saja nanti.

Zaford              : Kurasa, aku mulai merasa tak nyaman dengan kesombonganmu, Evabell. Mallory, ayo kita pulang saja. Tapi, sebelum kita pulang, bereskan pengkhianat itu dulu, Mallory!

Mallory             : Dengan senang hati.  (berkelahi dengan Slaven. Slaven mati. Lalu, semuanya keluar dari panggung)

Scene 7

Emiola              : Mereka benar-benar keji. Bagaimana bisa mereka membunuh adik mereka sendiri?

Evabell             : Sudah. Jangan dipikirkan lagi. Yang penting sekarang adalah, bagaimana caranya untuk menggagalkan rencana Zaford dan Mallory.

Emiola              : Hanya mereka dan Slaven yang tau caranya.

Evabell             : Tapi, warga desa bilang anak-anak mereka diculik oleh mereka. Anak-anak itu, pasti juga mendengar rencana mereka. Lagipula kan, rumah mereka kecil.

Emiola              : Hmm, kita harus menyelinap ke rumah mereka dan menculik kembali anak-anak itu. Jadi, kita bisa menanyai mereka.

Evabell             : Kalau gitu, besok, saat mereka pergi ke hutan bayangan, kita menyelinap ke rumah mereka.

Emiola              : Rupanya kau tau banyak tentang mereka, ya?

Evabell             : Hmmm, begitulah.

Scene 8

Penyihir            : (masuk ke panggung lalu, mulai memasukkan satu per satu boneka ke dalam sebuah tas/ keranjang dan melatakkan tas/ keranjang tersebut di atas meja)

Evabell             : (masuk ke panggung dengan sembunyi-sembunyi sembari menggandeng tangan Emiola)

Mallory             : (melihat ke sekitar merasa ada yang tak beres)

Zaford              : Mallory, ayo kita berangkat.

Mallory             : Eh, iya, kak.

Penyihir            : (Pergi keluar panggung)

Evabell             : (Menarik Emiola untuk masuk ke panggung)

Emiola              : Evabell, kamu lihat nggak tadi Mallory? Mallory, masukin boneka-boneka kesini. (memegang tas/ keranjang boneka)

Evabell             : Boneka-boneka ini pasti anak-anak  yang mereka culik.

Emiola              : Kalau begitu, kita ambil saja boneka-boneka ini dan segera pergi.

Evabell             : (Mengambil tas/keranjang yang berisi boneka) Ayo kita pergi.

Emiola              : (mengangguk dan keduanya keluar panggung)

Scene 8

Zaford              : (berdiri di tengah panggung. Memegang toples berisi bubuk sihir. Menatap Mallory serius)

Mallory             : (mengangguk dengan sorot mata penuh dukungan)

Zaford              : (membuka tutup toples dan mengangkatnya tinggi-tinggi) Wahai seluruh umat manusia, demi seluruh i…..,

Emiola              : Hentikan! (berteriak sembari berlari ke dalam panggung bersama Evabell)

Evabell             : Hentikan! Hentikan semua ini, Zaford! Dengan menghancurkan kebahagiaan orang lain, bukan berarti kau menjadi bahagia.

Zaford              : (menurunkan toples yang berisi bubuk sihir sebatas dadanya) Kau tak tau apa yang kutuju dan kucari. Setelah semua orang tak lagi mempercayaiku. Mereka semua satu per satu meninggalkanku. (memasukkan tangannya kedalam toples yang berisi bubuk sihir lalu, menggenggam segenggam bubuk sihir erat-erat) Kau juga meninggalkanku. Awalnya, kukira adik-adikku akan setia padaku. Tapi, nyatanya tidak. Taka da orang yang dapat kupercaya di dunia ini. Termasuk dia. (melemparkan bubuk sihir ke arah Mallory) Matilah kau!

Mallory             : Argh….., Kakak! Kukira kau, Argh….., (jatuh berlutut dan terbatuk-batuk)

Emiola              : (berlari menghampiri Mallory dan membatunya berjalan keluar panggung)

Anak-anak        : (masuk ke dalam panggung secara sembunyi-sembunyi dan berhenti jauh di belakang Zaford)

Evabell             : Apa yang kau lakukan? Sadar! Sadarlah! Di dunia ini, masih ada kok, kebahagiaan-kebahagiaan yang tersisa buat kamu.

Zaford              : Halah! Semua itu bohong! Bohong!

Anak-anak        : (berlari merebut toples bubuk sihir. Terjadi perebutan toples sehingga bubuk sihir terjatuh kemana-mana dan akhirnya, anak-anak berhasil mengambil bubuk sihir itu. Mereka berlari keluar panggung saat Zaford berusaha mengambil kembali toples bubuk sihir)

Evabell             : (menghalangi Zaford)

Zaford              : Minggir!

Evabell             : (masih tetap menghalangi)

Zaford              : (berhenti) Apa sih, maumu?

Evabell             : Mauku? (menampar wajah Zaford) Sadar! Sadarlah, Zaford! Perbuatanmu itu, sudah keterlaluan. Kenapa sih kamu? Bukannya kamu dulu baik-baik saja? Nggak seperti ini! Sadar!

Zaford              : (terdiam)

Evabell             : Kebahagiaan natal itu, bukan hanya untuk satu dua orang saja, bukan untuk mereka saja tapi, kebahagiaan natal itu, untuk kita semua. Mengapa kamu takut untuk merasakan kebahagiaan itu? Takut merasa bahagia itu, hal yang paling aneh yang pernah aku dengar. Bukankah semua orang dilahirkan untuk merasa bahagia?

Zaford              : Diam! Kamu nggak tau apa-apa disini! Diam! Kalau kau tak diam, aku akan….,

Evabell             : Akan apa? Hah? Akan apa? Membunuhku? Bunuh saja! Bunuh saja aku! Bunuh saja aku seperti kau membunuh adikmu sendiri!

Zaford              : (jatuh berlutut dan menutup muka dengan kedua tangannya)

Evabell             : Sebaiknya, kau mulai berbuat baik dan tak mengulangi kesalahan-kesalahan yang kau buat dulu. Aku yakin, Tuhan pasti memaafkan segala kesalahanmu karena, ini adalah hari natal. Semua orang, akan dimaafkan. Hari ini, adalah hari ditebusnya seluruh dosa umat manusia. Percayalah akan hal itu maka, hidupmu akan lebih bermakna.

Zaford              : Oh, Tuhan, maafkan aku yang berlumuran dosa ini!

Semua              : (masuk ke panggung) Mari kita, menyebarkan semangat natal yang akan terus bergema sepanjang masa tak peduli hari, bulan, ataupun tahun berganti, setiap hari adalah hari natal. Setiap hari, adalah kebahagiaan dan pengampunan. Selamat hari natal dan tahun baru! Terima kasih!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s