OLeh: Carolina Agustine

 

ADEGAN 1

Narrator           : Hidup adalah sebuah pertemuan. Pertemuan yang mempertemukan kita dengan rintangan, kesedihan, kebahagiaan, keramaian, kejutan, tantangan, kebanggaan, dan banyak lagi. Pertemuan kedua orang yang mengharukan kadang menjadi kenangan terindah bagi kita dan takkan tergantikan.

Terraina            : Kok kita ke sini?

Ren                  : Kamu ingat tempat ini nggak?

Terraina            : Ingat donk. 10 tahun yang lalu, kita ketemu di tempat inikan? Aku sedang menangis dan kamu mencoba menghiburku. Benarkan?

Ren                  : Wah… ternyata ingatanmu kuat ya. Padahal, sudah 10 tahun lewat setelah peristiwa itu

Terraina            : Iya donk. Waktu itu, aku sedih sekali karena Ayahku meninggal. Oh iya, kamu masih ingat cita-citaku waktu itu?

Ren                  : Masih donk. Kalau nggak salah nih, kamu pengen jadi burung cuckoo dan menemukan sarangnyakan?

Terraina            : Iya. Ternyata, kamu masih ingat! Bukannya kamu juga bercita-cita begitu?

Ren                  : Iya sih. Aku pengen nemuin sarang burung cuckoo

Terraina            : Tapi kalau dipikir sekarang… apa mungkin kita bisa nemuin sarangnya?

Ren                  : Kok kamu bertanya begitu?

Terraina            : Cuckookan selalu menitipkan telurnya pada burung lain. Sarangnya nggak akan ada!

Ren                  : Makanya itu, kita berusaha nyari. Siapa tahu, ada burung cuckoo yang buat sarang sendiri

Terraina            : Iya ya… eh, gimana dengan kelebihanmu itu?

Ren                  : Kelebihan apa maksudmu?

Terraina            : Itu. Yang itu…

Ren                  : Oh… Dream Controller maksudmu? Belum bisa kuhentikan…

Terraina            : Ya ampun! Udah jatuh berapa korban?

Ren                  : Untung cumalima. Tiga temanku, satu anjing yang dulu kita pungut bersama, dan satu lagiTaraanak dari bibi yang merawatku sedari kecil semenjak Papa dan Mama nggak ada.

Terraina            : Taramu? Bagaimana bisa?

Ren                  : Waktu itu…,

Waktu itu…

Tara                 : Ren…., Ren….,

Ren                  : Sebentar, ra!

Tara                 : Ren, ayo cepat. Sebentar lagi hujan!

Ren                  : Sebentar, ra. Ren sebentar lagi kesana.

Tara                 : Ren, ayo cepat. Kamu mau ikut aku belanja nggak sih?

Ren                  : Iya, ra. Tunggu bentar ya. Ren masih nyari sepatu Ren nih.

Tara                 : (meninggalkan Ren.) Ah, kamu ini lama sekali. Ya sudahlah. Kamu nggak usah ikut.

Ren                  : Tapi, ra…, (suara pintu di tutup)

Ren                  : (sakit hati dan menggerutu sendiri) Uhh…,Taraini disuruh tunggu sebentar aja nggak mau. Jahat!

Ren                  : Malamnya aku bermimpi aku membunuhTaradan aku tak tahu apa yang terjadi. Keesokan harinya Tara meninggal. (tersedu)

Terraina            :  (menenangkan Ren) Yang sabar ya, Ren.

Ren                  : ya, aku gak apa kok.

Terraina            : (berpikir sejenak) Tunggu, tadi kamu bilang Yuta. Yuta? Kenapa bisa mati sih?! Dia buat salah apa sama kamu?!

Ren                  : Dia nggak mau nuruti perintahku

Terraina            : Cuma itu? Kamu membunuhnya hanya gara-gara itu?!

Ren                  : Tapi dia….,

Terraina            : (menyela perkataan Ren) Kamu tega ya! Pembunuh! (pergi)

Ren                  : Jangan panggil aku seperti itu. Aku bukan pembunuh… aku tidak boleh membencinya. Sebab kalau itu terjadi, dia akan masuk ke dalam mimpiku dan terbunuh. Aku tidak mau kehilangan sahabatku satu-satunya…

ADEGAN 2

Narrator           : Dream Controller adalah kemampuan yang bisa mengendalikan mimpi. Saat kita sedang membenci seseorang dan ingin membunuhnya, kita akan memimpikan orang itu terbunuh. Memang itu hanya mimpi, tapi itu semua akan jadi kenyataan saat kita terbangun. Itulah kelebihan yang dimiliki Ren. Ia sebenarnya tak mau, tapi itu semua sudah keturunan. Ayahnya yang sudah meninggal adalah seorang Dream Controller. Ren sangat dibenci dan dijauhi teman-temannya…

Terraina            : Ah… kenapa Ren tega membunuh Yuta? Anjing kecil dan lucu itu? Yang kita temukan bersama di selokan… sedang kedinginan karena hujan? Kenapa kamu membunuhnya…? Mmm… sepertinya aku keterlaluan tadi. Kenapa aku memanggilnya pembunuh? Bodoh! Habisnya, Yuta adalah anjing kesayanganku…

Ren                  : (dengan baju lecek dan kotor datang dari belakang) aku bisa jelasin sama kamu

Terraina            : Ren? Kenapa kamu ada disini? Kenapa kamu terlihat kotor sekali? Habis darimana? Ngos-ngosan lagi?

Ren                  : (ngos-ngosan) Itu nggak penting. Aku nggak sengaja membunuh Yuta. Kamukantahu bahwa aku masih belum bisa mengontrol kekuatanku. Aku hanya kesal kok… kumohon jangan benci aku. Pamanku sangat membenciku karena aku membunuh Tara, padahal itu nggak sengaja. Aku nggak bermaksud…

Terraina            : Udahlah. Aku yang terlalu kasar sama kamu. Maaf ya…

Ren                  : Jadi, kamu maafin aku?

Terraina            : Iya. Aku nggak mau kita musuhan…

Ren                  : Horeee… makasih! Nah, aku mau tunjukin sesuatu yang pasti sangat mustahil bagi kamu

Terraina            : Apa?

Ren                  : Ayo ikut aku! (menarik tangan Terraina dan pergi)

 

 

ADEGAN 3

Narrator           : Ren dan Terraina pergi menuju hutan. Mereka masuk dan masuk ke dalam hingga menemukan sebatang pohon maple

Terraina            : Kita mau kemana?

Ren                  : Ke sini!

Terraina            : Hah? Kamu mau nunjukin apa? Cuma pohon maple?

Ren                  : Bukan! Lihat baik-baik cabang-cabang batangnya

Terraina            : Memang kenapa?

Ren                  :Adaapa saja di situ?

Terraina            : Ada batang dan burung dan sarang burung dan…

Ren                  : (menyela) stop! Yang mau kutunjukkan adalah sarang burung!

Terraina            : Memang kenapa dengan sarang burung?

Ren                  : Sarang burung! Masa kamu nggak tahu?

Terraina            : Jangan-jangan… jangan-jangan… jangan-jangan…!

Ren                  : Iya. Aku menemukan sarang burung cuckoo!!!

Terraina            : Ah… senangnya! Dua ekor burung cuckoo pulang ke sarang cuckoo!

Ren                  : Iya. Kita pulang ke rumah! Welcome home! Senangnya a…

(suara tembakan)

Bibi                  : Aku sudah tidak tahan lagi! Kamu telah membunuh anakku!!! Pembunuh!

Terraina            : Paman! Apa yang paman lakukan?! (menangis) Ren nggak salah apa-apa! Ren tidak bisa mengendalikan kekuatannya!

Bibi                  : Dasar bedebah pembunuh!

Ren                  : Tapi, aku tidak sengaja.

Bibi                  : Pembunuh. Akan kubunuh kau!

Ren                  : Bi, Ren nggak sengaja. Maafin, Ren.

Bibi                  : Aku tidak peduli. Kau tetap saja telah membunuh anakku.

Ren                  : Maafin Ren, bi. (ketakutan, menangis)

Bibi                  : Kubunuh kau!

Ren                  : (jatuh lalu memegang perut yang tertembak)

Terraina            : Ren! Bertahanlah! Aku panggilkan ambulan!

Ren                  : sudahlah… Terrai… na… akulah yang… bersalah… sudahlah… se… selamat… datang di… ru… rumah. Rumah… ki… ta ber… dua… (terbata karena kesakitan)

Bibi                  : Tak akan kubiarkan kau…

Polisi                : (membentak) Jangan bergerak! Jatuhkan senjata!

Bibi                  : Tidak.  Ia telah membunuh anakku.

Polisi                : Jatuhkan senjata anda.

Bibi                  : (sadar) Pergi, pergi. (merasa bersalah, menangis, dan menyesali perbuatannya)

Polisi                : Saya perintahkan anda untuk menjatuhkan senjata anda!

Bibi                  : Apa yang telah aku lakukan? (menjatuhkan senjata kemudian memegang kepala, frustasi)

Polisi                : (mengambil senjata milik bibi)

Bibi                  : Ini tidak nyata. Tidak. Aku tidak membunuh Ren.

Polisi                : Anda membunuhnya dan anda di tangkap! (memborgol bibi)

Terraina            : Ren… bertahanlah!

Ren                  : … (hening)

Terraina            : Ren? Ren?! REEEN…!!!

ADEGAN 4

Narrator           : Sudah seminggu sejak kejadian tragis itu. Paman Ren dimasukkan ke penjara karena membunuh tanpa alasan yang pasti. Ren dinyatakan tak bersalah karena kekuatannya itu adalah supranatural dan tak dapat dikendalikan tanpa ada pengajaran. Terraina yang ditinggalkan merasa sangat sedih…

Terraina            : Sudah seminggu kamu meninggalkan dunia ini. Kamu menyusul Yuta ke Surga… (menangis) aku kangen sahabat sepertimu. Berbahaya tapi baik hati. Aku suka… apa memang begini sifat burung cuckoo? Tak pernah berdiam diri di sarangnya? Maka dari itu mereka tak punya sarang. Burung cuckoo yang telah menemukan sarang satu-satunya di dunia, kini pergi meninggalkan sarangnya dan tak akan kembali lagi… Selamat tinggal, Ren. Suatu saat nanti, kita akan berjumpa lagi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s