Narrator                       : Dahulu kala, di sebuah kerajaan, hiduplah seorang ksatria yang gagah berani kebanggaan kerajaan tersebut. Ksatria yang sangat ditakuti oleh siapapun. Bahkan, suara langkah kakinya sajapun, dapat membuat siapapun yang mendengarnya merinding dan berlari pergi menjauh. Ksatria itu bernama Valentino.

Raja Stefan&Valentino  : (masuk kedalam panggung)

Valentino                      : Yang mulia, Kerajaan  Falezio  telah berhasil di taklukan.

Raja Stefan                   : (tertawa) Bagus. Bagus. Kau memang bisa di andalkan. Semua pasukan yang dipimpin olehmu selalu menghasilkan kemenangan.

Valentino                      : Yang mulia, terlalu memuji.

Raja Stefan                   : Bagaimana jika kita rayakan kemenangan ini?

Valentino                      : Semuanya terserah kepada yang mulia saja.

Raja Stefan                   : Ayo kita rayakan, Valentino. Panggil semua prajurit yang kau pimpin.

Valentino                      : Baik yang mulia.

Raja Stefan&Valentino  : (berjalan keluar panggung)

***

Valentino                      : Zafford, apakah kau tak jenuh dengan kehidupan yang hanya seperti ini?

Zafford                         : Kehidupan yang seperti ini? Ini adalah kehidupan yang menyenangkan. Kau beruntung memilikinya. Harta dan kekuasaan, sempurna. Kau telah memiliki keduanya. Kini, tak ada lagi yang perlu kau khawatirkan dalam hidup ini.

Valentino                      : Banyak yang berkata demikian. Tapi, aku merasa masih ada yang kurang.

Zafford                         : Hmmm, kudengar Alyssha sangat menyukaimu. Jika kau menerimanya maka, kau adalah laki-laki yang paling sempurna di usiamu.

Valentino                      : Aku tidak menyukainya.

Zafford                         : Kau gila? Alyssha cantik. Aku iri padamu karena ia menyukaimu. Tapi, karena kau mengatakan bahwa kau tak menyukainya, sekarang aku lega.

Valentino                      : Kau menyukainya? Sebaiknya kau mulai mendekatinya.

Zafford                         : (memukul lengan temannya) Sudahlah ayo kita kembali ke dalam pesta.

Valentino                      : Baiklah.

Zafford&Valentino        : (pergi keluar panggung)

***

Richard&Catherine       : (masuk ke panggung)

Catherine                      : Jadi, ini Kerajaan Apsolium?

Richard                         : Sebaiknya, kita berhati-hati disini, Catherine.

Catherine                      : Kenapa?

Richard                         : Yang mulai paduka Raja Nathaniel, kita bisa sewaktu-waktu di campakkan olehnya dan kita bisa berakhir dengan menjadi tahanan di sini.

Catherine                      : Hmmm, tidak seharusnya kau berkata demikian. Biar bagaimanapun, dia itu adalah raja kita.

Richard                         : Tapi, tidak disini. Kita sekarang ada di Kerajaan Apsolium bukan di Kerajaan Falezio.

Catherine                      : Kemarin, aku mendengar rumor.

Richard                         : Rumor?

Catherine                      : Kudengar kerajaan kita kalah pertempuran. Maka dari itu kita disini. Kita disini untuk menempuh jalan damai,kan?

Richard                         : Kemungkinan itu juga bisa saja terjadi.

Catherine                      : Ayo kita masuk saja.

Richard                         : Ayo.

***

Zafford                         : Kudengar salah satu utusan dari Kerajaan Falezio seorang perempuan.

Valentino                      : Lalu kenapa?

Zafford                         : Aku penasara dengan wajahnya. Mungkin saja ia lebih cantik daripada Alyssha.

Valentino                      : Yang kau pikirkan hanya fisiknya saja? Bagaimana kalau dia sudah tua nanti? Setiap orang pasti akan menjadi tua,kan? Bagaimana jika rambutnya telah beruban dan kulitnya telah keriput?

Zafford                         : Kata-kata yang sama seperti sebelumnya. Bagaimana kalau dia sudah tua nanti, bla bla bla, aku bosan mendengarnya.

Valentino                      : Sudahlah aku malas berdebat denganmu. Ayo kita sambut utusan dari Kerajaan Falezio.

***

Zafford                         : Selamat datang di kerajaan Apsolium. Saya Zafford dan ini Valentino.

Valentino                      : (tersenyum ke arah Catherine)

Catherine                      : (tersenyum)

Richard                         : Saya Richard dan ini Catherine. Suatu kehormatan dapat bertemu langsung dengan ksatria kerajaan besar seperti ini.

Valentino                      : Silahkan masuk.

***

Alyssha                        : Valentino, kudengar utusan kerajaan Falezio cantik. Apa dia lebih cantik dariku?

Valentino                      : Entahlah, kau bisa menilainya sendiri jika kau telah bertemu dengannya. (pergi meninggalkan Alyssha)

Alyssha                        : Valentino, siapapun yang berusaha merubutmu dariku, akan aku musnahkan.

***

Richard                         : Yang mulia paduka Raja Stefan, kami disini, membawakansuratdari raja kami. Yang mulia paduka Raja Nathaniel. (menyerahkan sebuahsurat)

Raja Stefan                   : (membacasuratyang diberikan Richard)

Richard                         : Apakah anda setuju dengan tawaran dari paduka raja kami yang mulia?

Raja Stefan                   : (menggeleng) Kesepakatan ini, terlalu kecil. Jika rajamu hanya memberikan seperempat daerah kekuasaanya pada kami, kami tak memiliki alasan yang cukup besar untuk menguasai kerajaanmu.

Richard                         : Tapi, bukankah yang mulia Nathaniel juga menawarkan putrinya untuk dinikahkan dengan putra mahkotamu?

Raja Stefan                   : (tertawa keras-keras) Putraku, tidak akan pernah kunikahkan dengan putri dari kerajaan kecilmu.

Richard                         : Kalau demikian kepuntusan anda, yang mulia, kami mohon pamit.

Raja Stefan                   : Siapa yang mengatakan bahwa kau boleh keluar setelah masuk kedalam kerajaanku? Kalian akan tetap disini dan mengabdi sebagai budak.

Catherine                      : (berbisik) kita harus melarikan diri begitu ada kesempatan. Untuk saat ini, ikuti saja dulu permainannya, Richard.

Richard                         : (Mengangguk samar)

***

Catherine                      : Richard, ayo kita harus segera keluar dari sini.

Richard                         : Ayo!

Catherine&Richard       : (berlari mengendap-sendap menuju ke tengah panggung)

Catherine                      : (berlari menabrak Valentino) Argh…., Sial! (berdiri untuk lari lagi)

Valentino                      : (menarik lengan Catherine) Mau kemana kau? Melarikan diri?

Catherine                      : Richard, larilah cepat. Tidak usah pedulikan aku. (berusaha melepaskan diri dari Valentino)

Valentino                      : (memperkuat genggamannya) belum ada satupun orang yang berhasil keluar dari sini. Jika temanmu berhasil, maka itu adalah suatu keajaiban.

Catherine                      : Lepaskan aku. (memberontak)

Valentino                      : Ayo, ikut aku menghadap yang mulia Raja Stefan. (menyeret Catherine)

Catherine                      : (mendesis) Sial!

***

Raja Stefan                   : Zafford, buat gadis itu tidak bisa melihat lagi agar ia tidak mencoba meloloskan diri lagi dan masukkan dia kedalam sel tahanan.

Zafford                         : (terkejut) Apa…., Eh, maksud saya, baik yang mulia.

***

Zafford                         : (bersembunyi di dekat jalan yang akan dilalui Catherine) sebenarnya, aku tidak tega melakukan ini. Tapi, aku harus melakukan ini jika tidak, aku yang akan dihukum.

Catherine                      : Urgh…., kenapa sih, aku pake acara nabrak orang segala? Nyebelin.

Zafford                         : (melemparkan bubuk kearah Catherine)

Catherine                      : Argh….., siapa sih….., aduh, duh, perih. Mataku perih…., (kesakitan)

Zafford                         : (berlari menjauh)

***

Narrator                       : Sejak hari itu, Catherine tidak bisa melihat. Disamping itu, ia juga dimasukkan ke dalam sel tahanan. Sungguh malang nasibnya. Ia terus bersedih sepanjang waktu. Air mata tak henti-hentinya membasahi matanya. Ia bersedih bukan karena ia menjadi tahanan namun, karena ia tak bisa melihat lagi.

Catherine                      : (Duduk di tengah panggung, menangis)

Valentino                      : (memandangi Catherine dari kejauhan. Merasa bersalah. Lalu, pergi meninggalkan Catherine)

Narrator                       : Hari demi hari, Valentino terus menerus memandangi Catherine dari kejauhan. Ia merasa bersalah karena dialah, Catherine tak dapat meloloskan diri dan sekarang gadis itu kehilangan pengelihatannya. Ia selalu memandanginya dari kejauhan. Hari pertama, Catherine menangis dan tak menyentuh makanannya sedikitpun. Hari kedua, Catherine mulai membaik. Ia tak menyentuh makanannya namun, ia telah berhenti menangis. Hari ketiga, ia mulai bisa menerima kenyataan. Valentino sangat ingin berbicara pada Catherine tapi, ia merasa bersalah pada gadis itu sehingga ia tak berani berbicara dengannya.

Catherine                      : (mengambil nafas panjang) Ayah, ibu, maafkan putrimu yang tak berguna ini. Aku berjanji akan pulang hari ini. Hari dimana tepat satu bulan aku menerima tugas itu. Maaf, aku tak bisa pulang. Tapi, aku yakin, dengan ada atau tidaknya aku, ayah dan ibu pasti masih bisa berbahagia. (tersenyum pada dirinya sendiri)

Valentino                      : (berjalan mendekati sel tahanan. Memandangi wajah Catherine)

Catherine                      : (menyadari kehadiran seseorang) Siapa?

Valentino                      : Aku…., aku…..,

Catherine                      : Kamu, kamu, orang yang waktu itu, kan?

Valentino                      : Aku cuma mau minta maaf. Gara-gara aku, kamu jadi kaya’ gini.

Catherine                      : (tertawa tragis) memangnya kalau kamu minta maaf lalu aku marahin kamu, pengelihatanku bisa kembali? Mungkin, ini sudah takdir dari Tuhan buat aku. (tersenyum)

Valentino                      : Sekali lagi, aku minta maaf.

Catherine                      : Aku bahkan lupa apa kesalahanmu?

Valentino                      : Aku, orang yang mencegah kamu buat melarikan diri waktu itu.

Catherine                      : Hmmm, itu sih , bukan kesalahan kamu. Itukan memang tugas kamu.

Valentino                      : Tapi, kalau saja waktu itu, aku nggak mencegah kamu buat melarikan diri, kamu nggak akan kaya’ gini. Ini semua, memang salahku.

Catherine                      : Nggak juga. Setidaknya dengan dunia yang gelap ini, aku jadi menyadari betapa indahnya dunia saat aku masih bisa melihat. Setidaknya, aku lebih banyak bersyukur sekarang.

Valentino                      : Maaf.

Catherine                      : Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri. Lagipula, aku curiga apa yang kau lakukan disini? Bukankah kau seharusnya ada di luar sana untuk memperluas kerajaan?

Valentino                      : Saat ini, waktu istirahat.

Catherine                      : Lalu, mengapa kau disini, bukannya istirahat?

Valentino                      : Entahlah. Aku selalu merasa bersalah jika mengingatmu.

Catherine                      : Kalau begitu, apa yang harus kulakukan untuk membuatmu tak merasa bersalah lagi?

Valentino                      : Tidak ada. Aku memang pantas dihantui rasa bersalah seperti ini.

Catherine                      : Kau hanya menyiksa dirimu sendiri. Padahal, kau tak melakukan kesalahan apapun.

Valentino                      : Sekali lagi, aku minta maaf.

Catherine                      : Baiklah, karena kau terus menerus meminta maaf sementara aku tak tau apa kesalahanmu, aku akan memaafkanmu. Sekarang, jangan merasa bersalah lagi.

Valentino                      : Terima kasih.

***

Valentino                      : (masuk kepanggung bersama Zafford) Jadi, Raja Stefan yang menyuruhmu menghilangkan pengelihatannya?

Zafford                         : (mengangguk) Sebenarnya, aku tidak tega melakukannya. Tapi, jika aku tidak melakukannya, aku yang akan dihukum. Aku tak memiliki pilihan.

Valentino                      : Catherine. Sebenarnya dia baik. Gadis malang, kehilangan pengelihatannya di usia yang masih muda.

Zafford                         : Kau membuatku terlihat seperti pengecut.

Valentino                      : Maaf. Aku tidak bermaksud demikian.

Zafford                         : Tidak apa-apa. Aku memang pengecut. Meminta maaf padanya saja tidak.

Valentino                      : Tenang saja. Ia pasti akan memaafkanmu.

Zafford                         : Benarkah?

Valentino                      : Sudah kubilang dia itu baik. Sangat baik. Kau pasti dimaafkan.

Zafford                         : Aku berharap dia bisa memaafkanku.

***

Zafford&Valentino        : (mendekati sel tahanan Catherine)

Catherine                      : (terkejut menyadari kehadiran seseorang) Siapa?

Zafford                         : Aku, aku, namaku Zafford. Aku, aku mau minta maaf (raut wajah penuh penyesalan)

Catherine                      : Kenapa banyak sekali yang meminta maaf padaku? Memangnya, apa kesalahanmu?

Zafford                         : Aku, aku yang membuatmu jadi seperti ini. Maafkan aku. Semua itu aku lakukan karena aku tak punya pilihan lain.

Catherine                      : Entahlah. Siapapun kau, apapun kesalahanmu, aku telah memaafkanmu.

Valentino                      : (memandangi Catherine sembari tersipu-sipu)

Catherine                      : Apa ada orang lain bersamamu Zafford?

Zafford                         : Sebenarnya aku bersama Valentino. Ia yang mengatakan padaku bahwa kau pasti akan memaafkanku.

Catherine                      : Valentino? Oh, orang yang kemarin, ya?

Valentino                      : Ya begitulah.

Catherine                      : Hai, apa kabar? (tersenyum)

Valentino                      : (terkejut) Eh, baik. Kau sendiri?

Catherine                      : Baik juga.

***

Zafford                         : Tenyata benar. Catherine memang baik.

Alyssha                        : (menguping sembari bersembunyi di pinggiran panggung)

Valentino                      : Hmm, dia cantik luar dalam.

Zafford                         : Apa yang baru saja kau katakan? Kau menyukainya?

Valentino                      : Entahlah.

Zafford                         : Aku bisa mengerti jika kau menyukainya sebagai orang yang baik tapi, aku tak mengerti bagaimana kau bisa menyukai gadis buta sepertinya?

Valentino                      : Tidakkah kau ingat, kau yang membuatnya buta. Lagipula, walaupun ia buta karenamu, ia masih mau memaafkanmu. Tidakkah itu tindakan yang menakjubkan?

Zafford                         : Entahlah jika aku jadi kau, aku lebih memilih Alyssha.

Valentino                      : Itukan kau bukan aku.

Zafford                         : (mengangkat bahu)

***

Alyssha                        : Jadi, sebegitu rendahnya seleramu Valentino? Kau lebih memilih gadis buta dibandingkan aku yang bahkan sepuluh ribu kali lebih baik dari pada gadis itu? Setidaknya aku tidak buta. Aku bisa melihat. Aku sempurna. Hmm, aku jadi penasaran dengan gadis bernama Catherine ini…., cara apa yang harus kugunakan untuk menyingkirkannya?

***

Alyssha                        : (mendekati sel tahanan Catherine)

Catherine                      : Siapa?

Alyssha                        : Catherine? Apa kau yang bernama Catherine?

Valentino                      : Alyssha? Sedang apa dia disini? (mengintip sembari bersembunyi)

Catherine                      : Iya. Siapa kau?

Alyssha                        : Mungkin lebih baik jika kau tak mengetahui siapa aku.

Catherine                      : Apa maksudmu?

Alyssha                        : jangan pedulikan aku. Aku kesini hanya untuk melihatmu saja.

Catherine                      : Melihatku? Memangnya ada yang salah denganku?

Alyssha                        : Iya. Kau memiliki kesalahan yang besar padaku.

Catherine                      : Memangnya, apa kesalahanku?

Alyssha                        : Kau, gadis buta yang jelek. Bagaimana bisa gadis buta sepertimu dibandingkan denganku? Lihat betapa menyedihkannya kau? Aku bahkan  sepuluh ribu kali lebih baik darimu.

Catherine                      : maaf tapi, aku benar-benar tak mengerti maksudmu.

Alyssha                        : tentu saja kau mengerti. Kaukan tak bisa melihat, bodoh!

Valentino                      : (keluar dari tempat persembunyian) Alyssha! Apa yang kaulakukan? Menghina orang lain? Sungguh perbuatan yang rendah. Aku bahkan tak menyangka kau serendah itu.

Alyssha                        : Valentino, apa kau gila? Aku bahkan lebih baik daripada gadis buta ini! Kau tak bisa melihatnya.

Valentino                      : Alyssha, hentikan semua kata-katamu ayo ikut aku. Kau bahkan tak sedikitpun lebih baik daripada Catherine.

Alyssha                        : Apa? Kau gila Valentino?

Valentino                      : Tidak aku tidak gila. Kau yang gila. Sebaiknya, kau segera pergi dari sini. Aku muak denganmu.

Alyssha                        : Kau! Kau berani mengusirku?! Lihat saja nanti. Kau akan menyesali perkataanmu itu! (pergi dengan muka manyun dan langkah panjang)

***

Raja Stefan                   : Apakah semua itu benar, Alyssha?

Alyssha                        : Ya, yang mulia, Valentino telah mengkhianati anda. Dia diam-diam menemui gadis itu. Mereka menyusun rencana bersama untuk menjatuhkan kerajaan anda dan membebaskan gadis itu. Mereka berencana akan membunuh anda, yang mulia.

Raja Stefan                   : Tapi, Valentino adalah orang yang loyal terhadap kerajaan ini.

Alyssha                        : Sebenarnya, Valentino adalah penyusup, yang mulia. Ia diam-diam membenci anda. Ia berpura-pura menjadi ksatria di kerajaan ini hanya untuk mendapatkan simpati anda saja. Setelah itu, anda akan mempercayainya dan ia bisa dengan mudahnya membunuh anda, yang mulia. Jika tidak, mengapa ia menolak anda ketika anda menjodohkannya dengan putri anda? Menikah dengan putri keluarga kerajaan adalah impian setiap ksatria, yang mulia. Tidak salah lagi, Valentino pasti telah mengkhianati anda.

Raja Stefan                   : Benar juga. Dasar Valentino kurang ajar, Ia tak tau cara berterima kasih padaku yang telah bermurah hati padanya ini? Kalau begitu, Zafford aku ingin kau segera menangkap dan membawa Valentino ke pengadilan dan katakan kepada hakim bahwa aku ingin ia menghukum Valentino dengan hukuman mati!

Zafford                         : (terkejut) Ba…, baik, paduka. (pergi keluar panggung)

Alyssha                        : (terkejut) Pa…, paduka, tidakkah itu….,

Raja Stefan                   : Itu adalah hukuman yang setimpal bagi seorang pengkhianat!

Alyssha                        : Ta…., tapi paduka….,

Raja Stefan                   : Pergilah!

Alyssha                        : Paduka…..,

Raja Stefan                   : Aku bilang pergi!

Alyssha                                    : (berlari keluar panggung dengan wajah sedih)

***

Zafford                         : Valentino! (Panik)

Valentino                      : Ada apa, Zafford?

Zafford                         : Gawat. Kau harus segera pergi dari sini!

Valentino                      : Kenapa aku harus pergi?

Zafford                         : Pokoknya, kamu harus segera pergi dari sini!

Valentino                      : Memangnya ada apa?

Zafford                         : Alyssha telah memfitnahmu. Ia mengatakan bahwa kau telah berkhianat!

Valentino                      : Lalu kenapa memangnya? Akukan tidak bersalah!

Zafford                         : Tapi, yang mulia Stefan telah mengirimkan perintah hukuman mati untukmu!

Valentino                      : Jika aku tak bersalah, kenapa aku harus lari?

Zafford                         : Valentino, kumohon. Pergilah!

Valentino                      : Tidak. Aku bukan pengecut. Lagipula, aku tidak melakukan kesalahan apapun.

Zafford                         : Terserah padamu tapi, kau harus segera pergi dari sini sebelum minggu depan!

***

Raja Stefan                   : Sebutkan permintaan terakhirmu sebelum kau mati, pengkhianat!

Valentino                      : Sudah kubilang aku tidak mengkhianati anda, paduka.

Raja Stefan                   : Aku bilang, sebutkan permintaan terakhirmu atau tidak sama sekali!

Valentino                      : (terdiam, berpikir)

Raja Stefan                   : Ayo, cepat sebutkan permintaan terakhirmu!

Valentino                      : Yang mulia, jika nanti saya mati, berikan pengelihatan saya ini pada Catherine, saya juga minta tolong anda sampaikan surat ini padanya dan bebaskan dia.

Raja Stefan                   : Rupanya benar kau memang menghianatiku!

Valentino                      : Sudah saya katakan, saya tidak berkhianat pada anda.

Raja Stefan                   : Terserah apa yang kau katakana pengkhianat tetaplah pengkhianat! (menarik kasar surat yang disodorkan Valentino) Gantung dia!

***

Narrator                       : Seminggu berlalu sejak kematian Valentino. Catherine telah dibebaskan. Sesuai dengan permintaan Valentino, Catherine kemudian dioperas.i Kini, matanya masih diperban karena transfusi. Tak ada seorangpun yang sampai hati memberitahukan kejadian tragis yang dialami Valentino padanya.

Richard                         : Catherine, so glad to see you again!

Catherine                      : (masih mengenakan perban di matanya) Richard? Richard apa itu kau?

Richard                         : Ya. Dokter bilang, perbanmu sudah boleh dibuka hari ini.

Catherine                      : Benarkah? Ah, kurasa hari ini adalah hari dimana aku merasa menjadi orang yang paling bahagia.

Richard                         : Benarkah? Kalau begitu, kita harus merayakannya.

Catherine                      : Eh, oh, iya. Richard, apa aku boleh bertemu dengan orang yang mendonorkan  mata ini padaku? Dia baik sekali. Aku sangat ingin bertemu dengannya. Siapa namanya?

Richard                         : (terkejut, membeku, gugup) eh, eh, itu, ya…., soal itu, sebenarnya…., Catherine…..,

Catherine                      : Tunggu-tunggu. Jangan beri tau aku. aku akan menanyakan namanya pada orang baik hati itu secara langsung. Apakah dia orang yang aku kenal? Aku bahkan tak tau harus berbuat apa untuk berterima kasih padanya.

Richard                         : Catherine…., sebenarnya….., sudahlah. Lupakan saja. Ayo kita buka perbannya.

Catherine                      : (duduk diam sembari tersenyum)

Richard                         : (membuka perban)

Catherine                      : (membuka mata perlahan)

Richard                         : Hai!

Catherine                      : Richard! Rasanya sudah lama sekali tidak melihat wajahmu.

Richard                         : Ya aku tau kok, kalau aku memang ngangenin.

Catherine                      : (tersenyum tipis, mengedarkan pandangan) Dimana orang itu?

Richard                         : (merunduk) Eh, aku tau aku akan menghadapi situasi ini. Sebenarnya….,

Catherine                      : Jangan bilang kalau orang itu tak mau bertemu denganku!

Richard                         : Bukan. Bukan begitu. Dia hanya tidak bisa bertemu denganmu. Dia tidak sempat.

Catherine                      : Lalu, kapan ia akan bertemu denganku?

Richard                         : (menunduk lalu menggeleng lemas)  Tidak. Dia tidak akan pernah bertemu denganmu.

Catherine                      : Apa maksudmu?

Richard                         : (memberikan sebuah surat pada Catherine)

Catherine                      : (mengambil surat dengan ragu dan mulai membaca)

Narrator                       : (Suara Valentino: mungkin saat kau telah membacanya, aku telah pergi jauh. Tapi jangan khawatirkan aku. Aku telah pergi ke tempat yang indah. Namun, bahkan tempat yang indahpun, tak terasa lebih baik tanpamu disisiku. Tapi, bukan masalah untukku jika aku harus sendiri selamanya selama aku bisa menemanimu tanpa kau dapat melihatku. Karena dengankulah kau melihat. Mungkin sudah terlambat mengatakan ini padamu. Aku menyayangimu. Lebih dari segalanya yang kumiliki. Aku selalu milikmu dan kau bebas. Valentino)

Catherine                      : (membeku. Jatuh terduduk. Menangis sedih)

Narrator                       : Valentino telah mengorbankan hidupnya demi orang yang ia cintai. Pengorbanan besar inilah yang pada akhirnya membuat hati orang-orang disekitarnya menjadi tergugah. Kemudian, sejak saat itulah, hari Valentine mulai di rayakan untuk mengenang Valentino yang menyayangi Catherine dengan setulus hati.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s