Aku tak tahu mau kemana tapi, tetap saja aku berjalan tanpa arah. “Dasar, keturunan tak bertujuan,”

“Aku mendengarnya!” aku berteriak. Suara itu mengagetkanku, dan aku melihat ke sampingku.

“Hay!” peri itu, peri kecil, tersenyum!

“Aaaaaaaaaa…,” aku kaget sehingga aku terlonjak kebelakang dan menabrak tiang listrik. “Ouch….,” aku mengelus kepalaku yang sakit. Lalu, aku melihat peri itu. Sangat menyebalkan! Bisa bisanya dia tersenyum setelah membuatku menjadi seperti ini! “Arrrgh….,” aku melemparkan daun-daun kering disekitarku dan peri itu menjauh.

“Sabar….., sabar. Kamu Xaveronkan?” peri itu berkata lembut padaku. Hah? Wajahku langsung melunak seketika. Tak terlihat garang seperti sebelumnya.

“Iya. Kenapa? Wah…, kamu lucu sekali!” aku memegang hidung peri itu.

“Hatchiii……, huh, hei! Hentikan! Lepaskan aku!” peri itu kupegang dan kudekatkan ke wajahku. Peri itu menghindar karena nafasku yang sangat kencang.

“Hei! Hentikan! Hentikan perilaku kasarmu itu! Aku kesini untuk menanyakanmu sesuatu,” teriak peri itu.

“Hah?” aku merenggangkan peganganku pada tubuh peri mungil itu.

“Lepaskan peganganmu! Aku masih tak bisa bernafas,” peri itu! Kenapa membentak bentak?

“Huh, jangan membentakku seperti itu! Kumakan nih!” aku membuka mulutku lebar lebar dan memasukkan setengah badan peri itu ke mulutku.

“Aaaaaaaa….., keluarkan aku dari mulutmu! Mulutmu bau sekali!” peri itu berteriak kencang dan memegang gigiku.

“Heeeiii….., lehahan hihihu!” aku berteriak tak jelas pada peri itu. Lalu peri itu melepaskan gigiku dan aku mengeluarkannya dari mulutku. Mata kami saling berpandangan beberapa detik, dan akupun mengalihkan pandanganku.

“KamukanXaveron, putri pertama di Keluarga Vinyl? Yakan?” peri itu bertanya lagi padaku.

“Huft….., itukan, bukan urusanmu,” aku menjawab dengan acuh tak acuh pada peri itu. Aku berlalu meninggalkan peri itu dan aku tertawa sendiri.

“Hey, kau seharusnya lebih sopan sedikit kepada nenekmu ini!” aku langsung memalingkan muka kepada peri itu. Nenekku? Tak mungkin. Nenek kan sudah meninggal.

“Aku pergi. Kau! Jangan menggangguku lagi! Itu peringatan! Jika kau melanggarnya, aku akan memotong lehermu!” aku berkata dengan geram. Lalu aku pergi.

“Kau jahat sekali. Aku hanya ingin memperkenalkan diri kok!” peri itu! Masih saja mengikutiku.

“Kau! Aku tidak ingin kau mengikutiku! Cepat pergi sana!” aku berteriak kesal pada peri itu.

“Namaku Emme,” peri itu! Astaga! Aku langsung memandang ke arahnya. Itu……..,

“Nenek!” aku langsung memeluknya dan melihatnya dengan wajah gembira.

“Nenek, aku tahu kau datang untuk membantukukan?” mataku berbinar binar. Mungkin saja pertanyaanku itu benar.

“Tidak, malah, justru aku yang ingin meminta bantuan padamu,” wajahku berubah 360° saat nenekku mengatakan itu. Huh…, sudah kuduga. Dia datang padaku pasti karena ada maunya.

“Meminta bantuan padaku?” aku bertanya basa basi. Sungguh membosankan.

“Hahaha….., aku hanya bercanda,” hufh, ternyata, nenek bukan seperti yang aku pikirkan. Syukurlah.

“Nenek…., nenek…., terima….,” ucapanku terputus.

“Jangan panggil aku nenek, aku masih cantik tahu!” kata peri itu.

“Lalu, harus kupanggil apa?” aku bertanya ringan. Benar-benar sangat membingungkan.

“Kau panggil aku Emme saja. Atau kakak, itu lebih baik,”

“Kakak…….? yang benar saja, aku tak bisa memanggil nenek dengan panggilan kakak. Biar bagaimanapun, nenek tetap saja nenek,”

“Tapi, akukan masih cantik!”

“Ya, ampun. Walaupun nenek sudah sekecil ini, tapi nenek masih tetap saja percaya diri sekali,”

“Hah? Kecil? Aku ini tidak kecil tau! Aku ini hanya berubah menjadi peri, kalau aku tidak mau jadi peri lagi, aku bisa menjadi besar!” jelas peri itu dengan tegas. Sungguh orangtua pemarah, sok muda, sok besar. Tiba-tiba, ponselku bernyanyi-nyanyi. Nomor tak dikenal? Aku menolak panggilan itu.

“Apa itu tadi?” tanya peri itu.

“Bukan apa-apa,”

“Baiklah. Aku juga sebenarnya tak peduli. Oh ya, kuingatkan kau sekali lagi. Kau, harus memanggilku kakak,” ucapnya.

“Ya, ya, terserah nenek saja,” ucapku tak peduli.

***

            Aku bersiap-siap untuk tes menyanyi. Ya, aku ini adalah seorang murid dari Aphroxa Art School. Aku bercita-cita untuk menjadi penyanyi seperti Taylor Swift, atau Selena Gomez, atau Miley Cyrus, atau penyanyi Hollywood lainnya. Lagipula, aku memiliki suara yang indah. Itu sih, yang dikatakan orang. Aku ingin, suatu saat nanti, aku bisa seperti mereka. Aku sudah dapat membayangkan bagaimana jika di masa depan nanti, aku menerima piala penghargaan atau, bagaimana jika album laguku berhasil merajai tangga Billboard seperti album Taylor Swift yang pernah merajai tangga lagu Billboard selama 35 minggu atau bahkan 1 tahun. Oh, sudahlah Xaveron, jangan terlalu banyak mengkhayal.

***

            Aku mengendap-endap menuju ke ruang kelas salah seorang temanku, Louise. Baiklah, dia bukan temanku. Dia adalah musuhku. Selama ini, guruku selalu membangga-banggakan aku. Tapi, semenjak Louise yang jelek itu menginjakkan kakinya di tempat ini, semuanya berubah. Dia merebut semua yang seharusnya menjadi milikku, gelarku sebagai penyanyi terbaik, perlakuan istimewa dari guruku, bahkan teman-temanku. Dia telah merebut semuanya dariku. Semuanya. Tapi, yang paling membuatku marah adalah, bisa-bisanya dia memasang wajah tak bersalah padaku setelah berhasil mengambil semua milikku. Dasar tak tahu diri! Apa sih yang dia mau? Apa dia mau merebut sahabat-sahabatku juga?

Aku membuka tutup sebuah botol kecil dan menuangkan sebagian isinya ke dalam botol air minum Louise. Lalu, aku beranjak pergi secara terburu-buru dari ruang kelas itu. Sekarang, aku bisa tenang. Tinggal menunggu hasil kerja dari racun itu saja.

***

            “Kau tahu, seharusnya, kau tak perlu meracuni Louise,” ucap Emme.

“Sudah, diamlah. Jangan bicara hal yang macam-macam seperti itu atau aku akan memotong lehermu,” ancamku.

“Diamlah, atau aku akan memotong lehermu, memotong lehermu? Potong sini, potong sana, potong dimana-mana?! Apa yang kau pikirkan. Suaramu itu sudah merdu. Kau tak perlu melakukan perbuatan yang aneh-aneh seperti meracuni sainganmu. Kau bisa bersaing secara jujur,”

“Diamlah!” teriakku seraya berlalu.

***

            Ah, apakah aku sudah ada di surga saat ini? Racun itu benar-benar bekerja. Bahagia rasanya melihat Louise yang sama sekali tak bisa mengeluarkan suaranya sepanjang hari ini. Terima kasih, Tuhan. Ini benar-benar anugerah. Sekarang, aku hanya tinggal menunggu tes menyanyi selanjutnya lalu, merebut kembali semua perhatian dari orang-orang di sekitarku yang telah diambil secara paksa oleh Louise.

Tapi, apakah obat itu akan bekerja untuk selamanya? Apakah iya? Lalu, bagaimana jika ia tak bisa berbicara untuk selamanya? Rasa khawatir dan was-was mulai merayapi hatiku. Bagaimana jika mereka melakukan penyelidikan dan mengetahui bahwa aku yang memasukkan racun ke dalam minuman Louise? Bagaimana jika pada akhirnya, mereka mengeluarkanku dari sekolah ini? Bagaimana jika…., Tidak, tidak. Tenangkan dirimu Xaveron. Hal itu, tidak akan pernah terjadi. Mereka tidak akan pernah tahu bahwa kau pelakunya, Xaveron. Tenangkan dirimu. Aku menarik nafas panjang dan segera menenangkan diri.

***

Aku berjalan kaki menuju ke rumahku. Di tengah jalan, saat angin berhembus kencang menerbangkan daun-daun kering musim gugur, tak sengaja aku bertemu seorang laki-laki yang berpenampilan acak-acakan dan kotor. Ew…., menjijikkan.

“Nona, bolehkah saya meminta sedikit minuman?” tanya laki-laki itu.

“Ew…, ini, ini, ambil saja semuanya,” ucapku seraya mengulurkan satu botol penuh air yang baru saja aku beli.

“Terima kasih,”

“Ya, terima kasih kembali,” ucapku seraya berlalu.

“Nona, pernahkah anda berpikir bahwa, anda tak akan pernah bisa merasa senang karena perbuatan anda itu?” tanya laki-laki itu. Apa? Apa yang di bicarakan? Apa maksudnya berkata demikian? “Andakan, yang meracuni perempuan malang itu?” tuduhnya. Apa? Bagaimana…., bagaimana dia bisa tahu aku yang meracuni Louise? Bagaimana dia…., apa jangan-jangan dia…., ah, tidak. Ini tidak mungkin. Laki-laki itu, tidak mungkin mengetahui apa yang aku perbuat. Tak ada yang tahu selain aku dan nenek. Lagipula, nenek juga tak mungkin membocorkan hal itu pada orang lain. Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan Louise? Aku berbalik.

“Apa maksudmu? Meracuni? Meracuni siapa?” tanyaku gugup.

“Louise. Kaukan, yang meracuninya?”

“Tidak. Bukan aku. Itu semua bukan salahku. Itu, mungkin itu, nasibnya,” Ujarku penuh emosi.

“Jawaban yang salah, nona,” jawab laki-laki itu. Apa? Apa maksudnya berkata demikian? Apa yang terjadi? Lho, ada apa ini? Dunia sekitarku berputar-putar di selimuti kegelapan pekat. Semakin lama, cahaya semakin pudar lalu, sampailah aku disebuah tempat. Tempat dengan bau busuk yang menyengat hidung. Bau busuk yang mebuatku ingin muntah setiap saat. Kegelapan pekat menyelimuti tempat ini. Siluet pohon-pohon ek tak berdaun yang berbentuk aneh mengitariku. Cairan asam berwarna hijau mengalir bagai air di sebuah aliran yang kurasa adalah sungai. Kepala-kepala manusia ikut terseret arus hijau itu. Mayat-mayat berserakan dimana-mana. Tempat apa ini? Tempat apa ini? Seseorang, keluarkan aku dari sini.

Aku melangkah mundur. Terus melangkah mundur hingga sesuatu menghentikanku. Aku berbalik dan teriakan tercekat dikerongkonganku. Sebuah pohon yang terbuat dari mayat-mayat tanpa wajah. Siapa yang tega berbuat seperti ini? Siapa? Kejam sekali orang itu.

“Jadi, kau yang meracuni Louise kan? Kau kan?” tanya seorang anak kecil.

“Bukan aku. Sudah kubilang bukan aku,” anak kecil itu tersenyum setelahnya, ia semakin lama menjadi semakin tinggi hingga melebihi tinggi badanku. Suara-suara aneh muncul setiap anak itu menggerakkan tubuhnya. Ia menjadi semakin tinggi, semakin tinggi, dan sangat tinggi. Tubuhnya juga menjadi sangat kurus dan kering hingga aku dapat melihat tulang-tulangnya perlahan-lahan menebus merobek kulitnya dan jantungnya tersingkap. Lalu, tiba-tiba anak itu berteriak dengan suara yang menyakitkan telinga. Aku menutup telingaku rapat-rapat. Tak lama setelah itu, seekor serigala datang. Aku mundur sejauh yang aku bisa. Masih dapat terlihat oleh mataku saat serigala itu mencabik-cabik jantung anak itu. Darah mengotori bulu serigala itu.

Setelah serigala itu selesai dengan anak itu, ia menatapku melalui  matanya yang sekelam langit malam. Ia memamerkan taringnya yang telah ternoda oleh darah berwarna hitam.

“Aaaaa…..,” aku berteriak lalu, berlari secepat yang aku bisa. Serigala itu mulai mengejarku. Aku berlari lebih cepat. Jantungku memompa dengan kecepatan yang luar biasa. Keringat bercucuran di dahiku. Pohon-pohon dan sungai hijau kulewati tanpa berpikir panjang aku berlari tak tentu arah. Aku menoleh kebelakang dan ternyata serigala itu telah hilang. Dimana serigala itu? Dimana dia? Aku memutar tubuhku. “Aaaaa…..,” aku berlari lagi saat aku menyadari bahwa serigala itu tengah mengintaiku dari atas batu. Aku berlari dan terus berlari hingga keseimbanganku mulai goyah. Pandanganku tak terkendali dan jantungku serasa mau meledak. Aku terus berlari terseok-seok dan terjatuh tepat di depan seseorang dengan pakaian hitam. Aku melihat…, “aaaaa….,” sesosok tubuh tanpa kepala dan membawa kapak besar ditangannya yang berlumuran darah. Aku menarik mundur tubuhku. Aku…, sebenarnya, ada dimana aku?

Tubuh tanpa kepala itu mengarahkan kapaknya ke arahku. “Aaaaa…..,” sekali lagi aku berteriak. Dia akan membunuhku. Aku belum mau mati. Aku masih mau hidup. Aku tidak mau mati. Aku memalingkan wajah dan menutup kedua mataku rapat-rapat. Darah membasahi tubuh dan pakaianku. Apa, aku sudah mati? Aku membuka mataku perlahan. Tubuh serigala yang tadi mengejarku, tergeletak lemas karena kehabisan darah tepat di depanku. Apa, apa aku, apa aku baru saja diselamatkan? Tak lama, serigala itu berubah wujud menjadi seorang gadis.

“Louise?” apa maksud semua ini? Tidak. Dia tidak mungkin Louise. Louise itu, jahat. DIA TIDAK MUNGKIN LOUISE! Tidak mungkin dan tidak akan mungkin.

Aku mendengar suara sebuah kapak jatuh.  Lalu, ketika aku memalingkan pandanganku kea rah tubuh tanpa kepala itu, ia sudah mulai meleleh. Terdapat buih-buih gelembung dalam cairan lengket berwarna hitam itu. Cairan itu berbau busuk. Sangat busuk seperti bangkai. Ya ampun, sedetik kemudian, aku memuntahkan isi perutku. Menjijikkan sekali.

Angin dingin yang kering berhembus ke arahku dengan sangat kuat beberapa detik setelah isi perutku terkuras habis. Namun, hal yang aneh mulai terjadi lagi. Pandanganku buram dan kepalaku terasa pening hingga aku tak mampu berdiri.

***

            Saat aku membuka mata, aku tak dapat menggerakkan semua anggota tubuhku. Suarakupun, tak bisa keluar. Apa, ada apa ini? Apa yang terjadi padaku? Sesosok makhuk yang sangat amat jelek, merayap diatas daun-daun kering yang aneh. Bunyi daun yang rapuh terus menerus terdengar. Lalu, ia mendekati seorang anak kecil. Makhluk jelek itu memukul kepala anak itu dengan kayu besar kuat-kuat. Aku menutup mataku saat suara teriakan yang menusuk-nusuk hati terdengar nyaring. Lalu, saat kubuka mataku lagi, keadaan anak itu benar-benar mengenaskan. Mengapa anak sekecil itu, harus mati dengan cara kejam seperti itu? Tengkoraknya pecah dan otaknya terlihat. Nafasku terhenti. Air mata membasahi pipiku. Apa, apa yang dia lakukan? Anak itu kan cuma anak kecil. Aku meronta-ronta berusaha membebaskan diri dari sesuatu yang membuatku tak bisa bergerak ataupun bersuara.

Makhluk jelek itu, mulai merayap mendekatiku. Aku berusaha berteriak sekencang-kencangnya untuk membuat makhluk itu tuli. Tapi, sekerasa apapun aku mencoba, tetap taka da suara yang keluar dari mulutku.

“Jadi, kau kan yang meracuni Louise?” tanya makhluk itu dengan suara yang aneh dan mengerikan.

“Bukan. Bukan aku!” jawabku masih dengan air mata yang terus mengalir di pipiku.

“Aaaaaaaa……,” makhluk itu berteriak saat tiba-tiba ia berubah menjadi sesosok laki-laki yang sama jeleknya. Tubuhnya dipenuhi paku. Paku-paku itu tampaknya menancap ke tubuhnya hingga tulang-tulangnya. Aku berusaha untuk melepaskan diri tapi, manusia jelek itu semakin dekat. Apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku lakukan sekarang? “Aaaaaaa……,” entah kerasukan setan mana, tiba-tiba suaraku kembali. Aku berteriak-teriak entah mengapa meskipun, aku tahu tak akan ada orang yang akan bisa membantuku. Manusia jelek itu, mengarahkan tongkat kayu besar yang digunakannya untuk membunuh anak kecil itu tadi ke arahku. “Aaaaaaa…..,” sesuatu telah terjadi. Lagi-lagi, orang yang sama yang menyelamatkanku.

“Tidak. Tidak. Dia bukan Louise. Louise itu jahat. Dia juga akan tetap jahat selamanya. Selamanya. Sekali jahat. Tetaplah jahat. Ia akan jahat selama-lamanya,” teriakku saat sekali lagi melihat mayat Louise jatuh bersimbah darah di depan mataku.

Setelahnya, ruang disekitarku tampak semakin terang, terang dan sangat terang dan terasa semakin menyakitkan mataku. Sinar-sinar itu membuat mataku buta. Bagaimana ini? Aku tak dapat melihat apapun.

***

            Saat pandanganku pulih kembali, aku sedang berada di sebuah ruangan tertutup tanpa jendela, tanpa pintu berwarna hijau lumut. Noda bekas rembesan air hujan, menghiasi bagian atas ruangan itu. Aroma lembab tercium membuatku semakin kesulitan bernafas saja. Lalu, muncullah hal yang sama seperti sebelumnya. Lagi-lagi makhluk aneh. Tapi, bedanya adalah, makhluk aneh ini, berupa sekelebat bayangan hitam yang memiliki mata besar yang bulat dan mulut yang dijahit dari ujung kanan hingga ke ujung kirinya.

Aku merapatkan tubuhku ke dinding ruangan yang menjijikkan itu sembari berharap bisa menyatu kedalam dinding-dinding itu. Aduh, makhluk mengerikan seperti apalagi dia ini? Tampak kerutan di sekitar mulut makhluk itu. Apa yang dia lakukan? Sedetik kemudian, darah mulai bercucuran dari mulutnya lebih tepatnya lagi, di sekitar jahitan-jahitannya. Perutku terasa teriris-iris menahan rasa ngeri. Bibirnya robek dan makhluk itu membuka mulutnya. Gigi-gigi makhluk itu telah busuk dan menjadi berwarna kecoklatan. Lidahnya hitam dan tampak luka seperti lidah yang pernah dipotong sebelumnya. Makhluk itu bergerak mendekatiku. Aku semakin menciut. Berusaha mundur ke belakang tapi, mengapa tampaknya ruangan ini, semakin kecil. Benar saja. Ruangan ini, memang benar-benar bergerak ke arah dalam secara bersamaan hingga ruangan ini menjadi semakin sempit.

“Aaaaa….,” teriakku saat makhluk itu berhasil menangkapku. Aku berusaha melepaskan diri dengan menendangnya. Tapi, yang namanya bayangan, pasti transparan. Tapi, tunggu dulu. Kalau dia transparan, mengapa ia bisa menangkapku? Mengapa bisa begitu? Aku berlarian ke sekeliling ruangan yang semakin sempit untuk menghindari makhluk itu.

Beberapa waktu berlalu hingga hanya menyisakan ruangan sebesar 1 QUOTE   2 m. Lalu, menjadi semakin sempit lagi hingga hanya menyisakan ruangan untuk kami saja. Aku tak mau terjebak dengan makhluk itu. Aku tidak mau. Dia menjijikkan.

“Jadi, kau kan yang meracuni Louise?” tanyanya.

“Bukan-bukan, bukan! Bukan aku,” teriakku.

“Jawaban yang salah, nona,” ucapnya lalu, matanya melotot dan, semakin melotot hingga bola matanya keluar dari kelopak matanya.

“Aaaa…..,” aku berteriak sekeras yang aku bisa ketika bola mata itu jatuh menggelinding ke dekat kakiku. Makhluk itu, mencekik leherku. Bagaimana ini? Kemana Nenek Emme di saat aku sedang membutuhkannya? Kemana dia? Katanya, ia datang untuk membantuku. Tapi, kemana dia saat aku sedang membutuhkannya?

Saat udara telah sepenuhnya meninggalkan paru-paruku, aku mulai merasa seperti ada yang terbakar di dalam rongga dadaku. Aku, membutuhkan udara. Aku meronta-ronta berusaha melepaskan diri tapi, tetap saja, tak merubah apapun. Seperti sebelumnya, lagi-lagi Louise menyelamatkanku. Ia mengarahkan sesuatu yang bercahaya ke arah makhluk yang sedang mencekikku. Sinarnya membuatku buta sesaat. Namun, saat pengelihatanku pulih kembali, tak kujumpai mereka dimanapun. Hanya ada seonggok abu yang berbau seperti daging yang baru saja terbakar. Aku menarik nafas panjang. Tanpa kuduga, lantai ruangan mulai runtuh menuju ke dalam tanah?! Entahlah apakah ke dalam tanah atau tidak. Aku bahkan tak tahu aku sekarang berada dimana.

“Aaaaa…..,” sekali lagi teriakanku menggema ke dalam kegelapan. Aku terjatuh dan terjatuh. Aku semakin terjatuh  entah sampai kapan aku terjatuh. “Aaaaaa…..,” teriakanku tak putus. Bagaimana ini? Masih adakah penyelamatan untukku lagi? “Aaaaaa….., tolong, tolong, kumohon. Memang aku, memang aku yang meracuninya. Memang aku. Aku menyesal. Aku menyesal,” ucapku dengan linangan air mata. Bola-bola sinar menerpa wajahku membuatku buta sekali lagi.

***

“Aaaaaa…..,” aku terbangun. Ternyata, cuma mimpi. Untunglah. Untunglah. Tenanglah Xaveron. Itu hanya mimpi. Tenangkan dirimu, Xaveron. Tenanglah. Itu semua, hanya mimpi. Hanya mimpi.

“Jadi, sudah sadar akan kesalahanmu kan, Xaveron?” tanya nenekku.

“Jadi, jadi, nenek ya, yang menyebabkan semua itu?” tuduhku.

“Eh, jangan salah paham dulu. Semua itu kan, demi kebaikanmu. Iya kan?” ia membela dirinya. Aku terdiam.

***

            “Louise, sebenarnya, aku yang memasukkan racun ke dalam minumanmu. Aku sangat menyesal. Kuharap kau mau memaafkanku. Tapi, aku memiliki ini, ini adalah obat. Minumlah,” ucapku sembari memberikan obat penawar dari racun yang sebelumnya kuberikan pada Louise.  Mulanya, kukira Louise akan membuang muka dan membenciku tapi, siapa yang mengira bahwa ia malah tersenyum dan meminum obat yang kuberikan.

Beberapa hari kemudian, Louise sudah mulai sembuh. Ia juga sudah bisa bernyanyi. Aku turut bahagia walaupun tersirat sedikit rasa khawatir dia akan membuat keberadaanku terancam. Tapi, aku harus yakin pada diriku sendiri. Aku harus yakin pada kemampuanku. Tuhan memberikanku suara ini. Aku akan terus menyanyi dan menggapai cita-citaku dengan cara yang jujur. Aku tak akan mengulangi semua kesalahan yang pernah kulakukan dulu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s