“Woi……., Rina! Sini donk jangan bengong aja! Bantuin gue!” Teriakan Santi kedengeran dari radius 20 m. Gue langsung nyamperin dia kalau gak, dia pasti bakalan teriak lebih kenceng lagi. Gue males dengerinnya. Apa dia gak nyadar ya kalau suaranya yang cempreng itu bisa membangkitkan mayat dari kubur?

“Iya, iya bentar napa!” Gue nyautin begitu gue ngerasa gue udah cukup deket sama tempat Santi berdiri.

“Eh, jangan ribut-ribut donk ini kantin tau!”Kanomemperingatkan.

“Eh, terserah gue donk, mulut-mulut gue! Lo, mau apa?” Santi ganti berceloteh dengan nada tinggi cenderung melengking di bagian akhir kalimat.

“Ini di kantin tau! Lo gak nyadar suara lo itu bisa bikin orang yang lagi makan disini mati keselek?”Kanomulai emosi.

“Udah-udah. Ayo yang mana yang mau gue bawa nih?” Gue nenangin Santi.

“Nih lo bawa mie ayam, bakso, sama 2 es teh punyanya Dinda sama Kirana ya!” Perintah Santi

“Okelah kalau begitu! Eh, trus lo bawa apa donk? Kalo semuanya gue yang bawa?” Gue tanya dengan hati kesal.

“Ya, ya tenang aja. Tuh lo liat 2 piring soto ayam sama 3 gelas jus disono!” Ucap Santi sambil nunjuk beberapa makanan dan minuman yang udah disediain di meja kantin pojok kiri.

“Ya gue liat lah. Gue kan gak buta! Jelas-jelas gue punya mata. Nih mata gue!” Gue nunjuk mata gue.

“Gue udah tau. Kalo lo punya mata. Tapi, yang jelas semua makanan itu gue yang bawa! Tau lo? Jadi, gak usah iri ya sama gue! Karena gue udah bawa yang itu kok!” Sinta meledek.

“Udah, ayo cepet. Keburu istirahatnya selesai!” Gue memperingatkan santi

“Oke. Let’s go!” Ucap Santi bersemangat. Begitu sampe di kelas, makanan itu langsung diserbu sama Dinda and Kirana yang kerjaannya cuma nongkrong di kelas sambil ngecat kuku mereka yang ceper.

“Masya Allah! Sabar donk bu. Ekspresi lo berdua udah kayak gelandangan yang belum makan 3 hari.” Ceplos gue asal

“Biarin aja, yang penting gue makan.” Kirana acuh tak acuh.

“Woi, cuci tangan dulu donk! Lo cacingan baru tau rasa! Dasar dendeng!” Santi memperingatkan Dinda yang udah mulai makan dengan sebutan dendeng.

“Ya, ya, ya! Dasar cerewet! Mulut lo itu bisa gak sih gak ceplas-ceplos terus. Ntar, kalo lo gak ngubah cara bicara lo, gue parut mulut lo biar jadi buncis gue masak bareng makan siang lo!” Bentak Dinda

“Udah. Udah! Lo berdua gak ada hari tanpa tengkar kenapa sih? Dasar! Gue lama-lama gue karantina juga lo berdua di RSJ sebelah rumah gue!” Gue teriak sekuat tenaga gue. Sebenarnya, Dinda dan Santi itu dulunya adalah sahabat yang baik. Tapi, hal itu berubah ketika Santi pergi kerumah Dinda 3 bulan yang lalu. Di rumah, Dinda punya seekor kucing. Santi tidak begitu menyukai kucing. Dan kucingnya Dinda yang terus bawel ke Santi itu, di tabok sama sandalnya Santi yang terbuat dari baja seberat 50 ton dan seketika kucingnya itu terseret dan nyemplung ke got terdekat. Tanpa basa-basi kucing Dinda langsung koid seketika. Dinda yang mengetahui kalau kucingnya tewas ditangan sandalnya Santi, langsung ngusir Santi sambil nangis-nangis ngangkat kucingnya dari got yang penuh dengan lumpur dan bau apek itu. Kemudian, langsung dikuburnya di TPI (Tempat Pemakaman Islam) setempat hari itu juga dengan disertai upacara bendera terlebih dahulu. Emang agak aneh ya?

“Ya Sori. Abis Santi duluan sih!” Dinda menuduh Santi

“Ya lo itu yang duluan! Dasar!” Santi tak mau kalah.

“Lo!” Dinda juga tak mau kalah

“Lo!” Santi apalagi

“Lo!” Dinda mulai kesal dan menjambak rambut Santi.

“Eh, gak usah jambak-jambak donk!” Santi ganti menjambak rambut Dinda sambil menyemprotkan kuah soto yang ada di mulutnya.

“Kurang ajar lo! Lo pikir lo yang nyuci baju gue? Mak gue yang nyuci tau! Pikir donk! Dasar gue bacok lo!” Tantang Dinda.

“Hey, udah donk. Jadi makan gak sih? Kalo gak jadi gue aja yang makan makanan lo!” Sentak gue ke mereka berdua.

“Betul gue juga masih mau kok nampung sisa makanan lo berdua!” Kirana yang tadinya diam akhirnya juga ikut angkat bicara.

“eh, kalian inget gak sih? Dulu waktu pertama kali Piket Antar Makanan ini pertama kali dilaksanakan? Kalian itu selalu rukun, kok sekarang gak sih?” Sambung gue.

“Iya. Gue aja masih inget!” Timpal Kirana.

“Ya deh, gue minta maaf!” Ucap Dinda penuh rasa penyesalan kepada Santi.

“Ya, gue juga. Sori ya!” Santi membalas uluran tangan Dinda dengan seulas senyumannya.

“Nah, gitu donk! Ayo dimakan makanannya! Eits, jangan lupa cuci muka dulu! Eh, kok cuci muka sih? Em, maksudnya cuci tangan, ding!” Gue ngingetin temen-temen gue.

“Ya, ya. Gue tau! Nih, gue mau berangkat cuci tangan. Tenang aja kale! Nanti, kalaupun toh gue cacingan, Gue juga kan yang ngerasain bukan lo pada!” Celoteh Dinda.

“Terserah lo, deh. Gue capek ngingetin lo!” Ucap gue pasrah. Tak beberapa lama kemudian, Dinda kembali dari tempat dia mencuci tangannya yang belang itu. Sekejap saja, makanan yang ada di atas meja kita, udah disikat abis sama kita. Termasuk juga minuman segar nan dingin di sebelah tangan kita masing-masing.

“Yeah….., Yey!Gue duluan yang abis. Kirana yang terakhir. Berarti, harus ngembaliin piring dan gelasnya!” Teriak Sinta kegirangan.

“Okelah. Gue yang ngembaliin. Tapi, jangan teriak sambil loncat-loncat kayak gitu donk! Malu diliat orang.” Bisik Kirana sambil meringkas piring dan gelas yang ada dimeja kami, seraya nunjuk orang-orang yang ngeliatin Sinta teriak-teriak.

“Apa lo liat-liat?” Ucap Sinta garang kepada orang-orang yang ngeliatin dia seraya menunjukkan kepalan tangannya ke orang-orang yang lagi ngeliatin dia.

“Aduh mbak, cantik-cantik kok galak?” Ucap Doni.

“Iya kayak harimau! Rarrrr……!” Goda Andi.

“Nanti, cantiknya ilang, lho!” Sambung Kano.

“Cantiknya ilang, berubah jadi ganteng, deh!” Timpal Roni.

“Huahahahahahaha………  Hahahahahaha…………….” Doni, Andi, Kano, Roni, dan orang-orang yang ada di sekitar situ tertawa terbahak-bahak. Ada yang suaranya cempreng, nge-bass, melengking, bahkan ada yang suaranya ngakak cenderung ngeden.

“Heh, dasar semprul, kalian semua. Kurang ajar! Juangkrik” Santi memaki-maki.

“Udah-udah. Ayo, kita pergi. Daripada lo  naik darah?” Saran gue ke Santi.

“Ya, ayo kita pergi! Males banget liat muka monyet-monyet ompong kayak mereka. Ouuuhhhhhh!” Gerutu Sinta.

“Let’s go!” Ajak gue. Gue dan temen-temen gue segera pergi ke kelas ke tempat favorit kita yaitu tempat duduk Kirana yang ada di pojok kiri belakang bangku deretan meja guru. Sampe ditempat, kita langsung ngerumpi sampe jam masuk bunyi. K R I I I I I N G !

“Selamat pagi anak-anak!” Sapa Bu Rika.

“Pagi, bu!” murid-murid menjawab serempak.

“Oke. Kita mulai pelajaran kita!” Seru Bu Rika menutup suara di kelas gue jadi keheningan yang teramat dalam tapi, bukan mengheningkan cipta, lho….! Bel kedua berbunyi. Kali ini bel itu bukan menandakan waktu istirahat. Tapi, bel itu menandakan jam pulang.

“Ayo, anak-anak segera kemasi barang-barang kalian! Dan segeralah pulang ke rumah kalian masing-masing ya! O, ya. Jangan lupa PR dari ibu dikerjakan. Kano ayo siapakan teman-temanmu untuk berdoa.” Perintah Bu Rika.

“Baik, bu! Siap. Berdoa mulai.” Kano ganti memerintah seisi kelas. Lalu, tak beberapa lama kemudian.

“Berdoa selesai. Beri salam!” Sekali lagi Kano memerintah seluruh warga kelas  ‘8 E’.

“Selamat siang, Bu Rika!” Ucap seluruh murid kelas 8 E secara serempak.

“Selamat siang, anak-anak. Hati-hati di jalan ya!” Kata Bu Rika sembari pergi berlalu di balik murid-murid SMPN Kusuma Bangsa yang berlalu lalang di depan kelas gue.

“Eh, Santi, Dinda, Kirana! Lo pada mau gak nginep dirumah gue hari ini?” Saran gue cenderung memohon.

“Ya, ampun. Gue males banget beres-beres tau!” Balas Dinda memasang wajah datar.

“Pliiiiisssss, Gue hari ini sendirian! Bokap & Nyokap gue lagi pergi ke Aussie! Toh, lagi pula besokkan hari munggu! Jadi, kita bisa sekalian Hang Out bareng………, Gue yang bayarin deh! Setuju?” Gue mengiming-imingi Santi, Dinda, dan Kirana.

“Wah……, kalau di traktir Hang Out sih, beda lagi ceritanya. Walaupun gue harus nginep setahun di rumah lo, gue relaaaaaaaa buangetz kok!” Ucap Santi girang.

“Kalau Santi ikut, gue juga deh!” Sambung Kirana meringis

“Kalo, lo gimana, Din?” Gue mulai penasaran dengan jawaban akhir milik Dinda.

“ Emmmm……………………………………………………, OKB!” Jawab Dinda singkat.

“Apa’an tuh?” Tanya gue, Sinta dan Kirana bebarengan.

“Okelah Kalo Begitu. Masa gitu aja gak ngerti? Wah, payah lo pada!” Ejek Dinda

“Ya lah, ya lah!” Jawab gue, Sinta dan Kirana pasrah. Setelah kita sampe didepan sekolah dan nungguin jemputan gue, tiba-tiba saja.

“Hey, Rina!” Sapa Kano.

“Apa?” Jawab gue sinis

“Ih, cantik-cantik sinis. Senyum donk! Dikit aja!” Goda Kano. Gue ngembangin senyum kecil yang pasti keliatan gak ikhlas banget

“Hihihihi.” Santi, Dinda, dan Kirana tertawa kecil melihat tingkahku.

“ Nah, gitu donk. Walaupun, senyumnya gak ikhlas!” Kata Kano.

“Ih, biarin donk! Yang penting udah keliatankan senyumnya.” Ucap gue acuh tak acuh.

“Ya, deh. Eh, gue cabut dulu ya, my dear!” Kata Kano sambil mengarahkan pandangannya yang menggoda kearah gue.

“Ih, Yaikzzz……,  Hi…., najis gue! Kenapa sih sama anak itu? Ada yang salah ya sama dia? Atau otaknya ada yang korslet?” Kata Gue ke Sinta, Dinda, dan Kirana sambil memasang ekspresi jijik.

“Eh, jangan gitu. Emangnya kamu gak tau?” Tanya mereka hampir bebarengan.

“Tahu apa? Tahu atau tempe. Halah, eh, salah ding. Tau apa?” Gue tanya balik ke mereka.

“Jadi, kamu bener-bener gak tau?” Tanya mereka lagi nyaris berteriak histeris dengan ekspresi seakan tak percaya. Ngeliat mulut mereka yang menganga lebar, gue jadi ngebayangin gimana kalau ada lalat yang masuk ke dalem mulut mereka dan OMG……, amit-amit jabang bayi……, D I T E L A N sama mereka!

“Ya, gue gak tau lah, orang lo pada belum ngasih tau gue!” Ucap gue sembari menahan tawa yang udah di ujung tanduk. Eh, maksudnya di ujung bibir.

“Ya, ampun! Asal lo tau aja ya!? Kano itu udah lama suka sama lo!” Sembur Santi. Dan dengan jelas gue bisa ngeliat air ludahnya yang muncrat dari mulutnya ke udara di sekitarnya. Ih, Jijay!

“Masa sih? Kok gue gak nyadar?” Tanya Gue setengah tak percaya.

“Ya, iyalah gimana lo mau tau coba. Nih lo sibuk pacaran mulu!” Sambung Dinda.

“Pacaran? Sama siapa coba? Orang gue ndiri aja ngejomblo udah hampir 2 bulan gini!? Lo bilang gue pacaran? What? Yang bener aja?” Gue tanya balik ke Santi, Dinda, dan Kirana.

“Ini pacar lo!” Kata Kirana sambil nunjuk HP gue yang sedang mengakses Facebook gue.

“Maksud lo?” Tanya gue bingung.

“Ya ini pacar lo. Gimana mau tau coba kalo lo sibuk Facebookan terus. Masa 12 jam dalam sehari lo abisin buat Facebookan. Gimana lo mau tau dunia sekitar lo coba?” Sinta nyalahin gue.

“Ya, mau digimanain, donk? Gue udah terlanjur kecanduan Facebook!” gue memasang muka melas berharap supaya mereka gak bahas soal itu lagi.

“Okelah kalo Begitu. Eh, Rin, itu jemputan lo, Eh, maksudnya kita udah dateng, noh!” Kata Dinda sambil nunjuk sebuah mobil BMW  berwarna hitam yang baru saja memasuki halaman sekolah dan dengan segera menuju tempat dimana kami berdiri.

“Ayo, naik-naik. Cepetan. Oh, ya. Jangan lupa Calling ortu kalian dulu ya!” Perintah gue.

“Okey. Okey.” Kata mereka sembari masuk ke mobil gue. Di perjalanan, gue dan temen-temen gue ngobrol panjang banget. Tapi, karena hal itu juga, gue gak nyadar kalo mobil gue udah masuk  ke ‘garasi’ di rumah gue. Eh, ralat. Maksudnya rumah ortu gue. Secara gitu, gue kan masih SMA belum bisa kerja cari uang buat beli rumah. Hihihihihi…………….,

“Halo, Sinta, Dinda, Kirana!” Sapa mama gue.

“Ya tante!” Jawab mereka kompak.

“Ya,udah kalian nginep di sini kan?” Tanya mama gue.

“Ya, tante.”  Jawab Santi, Dinda, dan Kirana.

“Oh, kalau begitu tante bisa dengan tenang pergi ke Aussie. Kan ada yang jagain Rina!” Ucap mama gue seraya tertawa kecil.

“Hihihhihi………………,” Santi, Dinda, dan Kirana tertawa. Dan jika gue denger tawa mereka rasanya, gue kayak ngedenger suara tawa ‘mbak kunti’di pohon beringin sebelah TPI (Tempat Pemakaman Islam) di depan masjid yang ada di daerah perumahan tempat rumah gue berada.

“Mama……..! ih…,” tegur gue.

“Iya, iya. Bercanda dikitkan gak apa-apa Rina, sayang.” Goda mama sambil berlalu pergi meringkasi barang-barangnya.

“Eh, udahan donk ketawanya. Kekamar gue yuk.” Ajak gue.

“Ayo, ayo.” Jawab mereka serempak. Lalu, gue memandu mereka kekamar gue. Sesampainya di kamar.

“Arrrgggghh…………., ya ampun. Rina kamar lo abis direnovasi ya?” tanya Kirana.

“ya, 1 bulan yang lalu.” Jawab gue santai.

“Apa? 1 bulan yang lalu?” Dinda histeris.

“Iya, 1 bulan yang lalu. Emang kenapa?” Jawab gue lagi sambil meletakkan tas gue di atas meja belajar gue yang ada di sebelah lemari putih besar desain mama, yang di pesan khusus buat gue.

“Wah, berarti udah lama ya? Kita-kita ini gak kerumah lo!” Ucap Santi mengingatkan.

“Emang sih. Habisnya, lo-lo pada sibuk ngupil mulu.” Ucap gue sambil ngupil.

“Ya sih. Ya. Ya udah deh.” Ucap kita geje, sambil ngupil berjamaah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s