Satu dari banyak hal yang masih misterius di dunia ini adalah perasaan. Lalu, di antara banyak perasaan yang dapat kita pilah, terdapat satu kata, cinta. Kita tidak tahu kapan cinta itu akan datang dan bertahta di hati kita ataupun pergi dengan tiba-tiba dan meninggalkan serpihan-serpihan kecil hati yang terluka. Kita bahkan tak tahu kapan cinta yang sesungguhnya atau cinta yang palsu menghampiri kita.

Selama tiga belas tahun hidupku, aku berusaha menolak keras setiap perasaan dengan nama yang terdiri dari lima huruf itu. Aku selalu berpikir bahwa cinta hanyalah perasaan yang terbentuk dari imajinasi manusia. Bisa saja seseorang berpikir bahwa dirinya sedang jatuh cinta nyatanya ia tidak sedang benar-benar jatuh cinta. Lalu, karena kemisteriusan cinta pula, yang menambah suara untuk membuatku bertahan dalam dunia tanpa cinta. Perasaan manusia adalah hal yang misterius. Tak dapat ditebak kapan akan muncul dan kapan tenggelam lagi dari permukaan hati. Perasaan juga adalah hal yang maya. Perasaan tak dapat dibuktikan, tak dapat diukur, dan menurut ilmu pengetahuan, segala sesuatu yang tak dapat diukur serta di buktikan di dunia ini berarti tak ada. Cinta itu hanyalah sebuah omong kosong. Di dunia ini, kita tidak bisa hidup hanya karena cinta. Bahkan, pendirianku itu tak berubah saat sahabatku sendiri jatuh cinta. Ia benar-benar gila karena cinta.

Enam tahun persahabatan kami, tak mampu menggoyahkan pandanganku tentang cinta bahkan saat Kathleen untuk pertama kali menceritakan tentang perasaannya padaku. Hari itu, Kathleen menceritakan tentang seorang cowok yang ia sukai, Sean. Aku heran apa hebatnya cowok itu. Dulu, saat kami bertiga masuk dalam kelas yang sama, 5B, aku merasa kami baik-baik saja. Bahkan tak ada satu hal istimewapun tentang cowok bernama Sean itu. Kathleen mengatakan padaku bahwa ia benar-benar sedang dalam peristiwa yang disebut jatuh cinta. Pertama kalinya perasaan itu tumbuh, saat mereka berdua masuk ke kelas yang sama di awal SMP. Entah mengapa sejak itu, aku merasa banyak yang berubah dengan sahabatku itu. Dulu, sahabatku adalah perempuan yang tegar. Pantang menitikkan air mata bahkan saat Tuhan mengambil seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya, ayahnya. Tapi, sejak perasaan yang bernama cinta itu menjamah hatinya, ia mulai berubah. Ia berubah menjadi orang yang melankolis/mellow. Suasana hatinya selalu dipengaruhi oleh cinta. Tangisan demi tangisan yang menurutku sama sekali tak berarti mengalir dari mata indahnya. Satu hal yang sangat ingin aku tanyakan pada semua perempuan yang ada dan hidup di muka bumi ini, bagaimana bisa kita, perempuan, menangis hanya karena makhluk yang disebut laki-laki? Hal yang hina.

Kisah cinta Kathleen sangat rumit. Ia menyukai Sean sementara Sean sendiri menyukai Allysha, teman dekat Kathleen. Ia sering mengatakan padaku bahwa semua yang ia lakukan tak ada harganya di mata Sean. Ia merasa seperti bayangan kabur yang tak terlihat jelas saat Sean melihatnya. Ia benar-benar merasa tak berharga sama sekali. Sungguh menyedihkan. Tapi, tentu saja aku sebagai sahabatnya, hanya bisa menyarankan atau menyemangati Kathleen dari belakang. Selanjutnya, itu adalah kehidupannya. Kehidupan yang harus di susurinya dengan menapaki jalan yang ia pilih sendiri. Berulang kali aku menyarankan Kathleen untuk melupakan Sean dan kembali ke kehidupan nyata. Kisah cinta yang dramatis dan indah hanya ada di dalam kisah-kisah dongeng. Berulang kali juga aku mengingatkannya bahwa kita hidup di dunia nyata bukan di dunia khayalan, novel, ataupun karya fiksi lainnya karangan William Shakespeare yang romantis dan sempurna. Lagipula, walau cerita-cerita karangan William sangat sempurna tapi, di bagian akhir cerita pasti terjadi tragedi. Sebut saja Romeo dan Juliet yang dikarangannya Cerita dengan akhir berupa tragedi berdarah yang menggetarkan jiwa.

Kurasa saat itu, pandangan Kathleen benar-benar telah buta karena cinta. Ia terus saja berkata akan berjuang untuk meraih hati Sean sampai ia berhasil memilikinya. Hal ini membuatku hanya bisa terus berteriak di sampingnya sebagai supporter yang selalu ada untuknya. Tak lama setelah itu, terjadilah peristiwa, rabu kelabu. Kathleen dengan air mata yang menghalangi pandangannya dengan bibir bergetar menahan gejolak perasaan yang dirasakan, menceritakan segalanya. Segalanya tentang Sean yang mulai bersikap dingin dan menjauhinya. Ia berkata bahwa setiap kali ia selangkah lebih dekat ke hati Sean, laki-laki itu mundur lima langkah dan menutup rapat-rapat pintu hatinya. Benar-benar menutupnya rapat-rapat seperti membanting pintu tepat di depan wajahmu. Hari itu, aku hanya bisa menghiburnya. Walaupun tak sepenuhnya berhasil, aku merasa wajib melakukannya.

Sementara Kathleen berusaha menyembuhkan dirinya sendiri, aku mulai tertular penyakit melankolis/mellownya. Aku mulai merasakan sesuatu kadang berdesir mengikuti peta hati yang telah diciptakan Tuhan terkadang mengarah langsung ke otakku membuatku langsung membayangkan seseorang. Ya, Tuhan, aku berusaha dengan sangat menolaknya keras-keras saat itu. Namun, semakin aku menolaknya, semakin aku merasa jatuh lebih jauh kedalamnya. Beberapa bulan berlalu, Kathleen masih dalam proses penyembuhannya dan aku masih terus menerus berusaha menolak perasaanku. Aku mulai merasa frustasi memikirkannya. Ingin rasanya menyalurkan histeriaku dengan berteriak sekeras-kerasnya. Tapi, saat kuputuskan untuk menerima perasaan itu walaupun masih tersisa sedikit benteng untuk melindungi hatiku, rasanya tak seburuk itu.

Seperti Kathleen, aku mulai tergila-gila dengan segala jenis lagu cinta yang nadanya membekas di hati. Pada akhir tahun ajaran kelas 7, pelajaran Bahasa Inggris, aku dan seluruh kelas tujuh, mendapat tugas untuk menyanyikan lagu Bahasa Inggris apa saja yang penting liriknya Bahasa Inggris. Mendapati bahwa aku ingin semua orang mengetahui apa yang aku rasakan saat ini, aku memilih sebuah lagu yang liriknya, sangat amat sungguh mellow. Lirik yang menceritakan tentang penantian, cinta sejati, dan kesetiaan. Sungguh mengerikan jika saja saat itu benteng yang tersisa runtuh berkeping. Tapi, untunglah hal itu tidak terjadi. Aku bersyukur akan hal itu.

Liburan kenaikan kelas, menjadi saat-saat yang menyenangkan banyak hal yang dapat kulakukan. Pergi ke toko buku bersama Kathleen, nulis novel, nulis cerpen, nyanyi segila-gilanya, dan hal-hal menyenangkan lainnya. Kathleen juga bercerita bahwa, ia menemukan permata di balik debu. Ia menemukan seseorang, Kei. Kalimat-kalimat yang diucapkan Kathleen menggambarkan jelas bahwa Kei adalah sosok yang lucu, hangat, dan pengertian. Selalu mendukung Kathleen dalam suka dan dukanya. Sosok yang ditemuinya berkat keikutsertaanya dalam ekstrakulikuler teater itu, sering menghiburnya saat ia menangis. Lalu, hatiku tersentak. Memangnya kemana saja aku selama ini sehingga Kathleen mendapat hiburan dari orang lain bukan dari sahabatnya? Aku adalah sahabat yang buruk. Walaupun demikian, aku tetap merasa senang karena Kathleen juga telah kembali merasa bahagia.

Suatu hari, saat angin berhembus sepoi-sepoi membawa dedaunan kering dari pohon, mengingatkan aku pada burung-burung yang terbang riang. Bola mataku menatapnya. Seseorang yang nampaknya benar-benar tidak bisa bermain sepak bola. Tapi, mengapa bisa ia menjadi sangat mempesona dibandingkan yang lain? Pikiranku melayang jauh meninggalkan tubuhku. Sesaat sempat terpikir olehku untuk menolak lagi cinta itu. Tapi, mengingat bagaimana susahnya hidup dalam rasa frustasi, aku mengurungkannya. Lalu, aku teringat akan Kathleen, Sean, dan Kei. Bagaimana kelanjutan kisah mereka nanti? Apakah Kathleen benar-benar telah melupakan Sean untuk Kei atau hanya menjadikan Kei sebagai pelarian saja? Bukankah Kei 200 kali lebih baik daripada Sean? Lebih pengertian padanya? Selalu ada untuknya? Sungguh sangat sayang jika hanya dijadikan pelarian.

Setelah beberapa minggu berlalu, aku baru tersadar ternyata pemikiranku tentang Kei yang dijadikan pelarian adalah benar, nyata, dan asli. Kathleen masih suka sama Sean sedangkan Sean secara terang-terangan berkata pada Kathleen bahwa, ia hanya menganggap Kathleen sebagai adik saja. Jika aku Kathleen, aku akan segera tancap gas untuk melupakan semua perasaan yang pernah singgah di hatiku dan segera berusaha menyukai Kei yang jelas-jelas ada di sana saat aku butuh dia. Tapi, aku bukan Kathleen dan itu hidupnya hanya dia yang berhak membuat dan mengambil keputusan. Rupanya, Kathleen tetap memutuskan untuk bertahan. Ia tetap bertahan untuk menyukai Sean? Oh, ini benar-benar tidak masuk akal. Tidakkah cukup semua sakit hati yang ia dapat dengan menyukai Sean? Mengapa ia harus menyukai Sean bukannya Kei?

Entah berapa lama waktu yang di habiskan Kathleen untuk menimbang pilihan hatinya. Apakah pilihan itu jatuh ke Kei atau Sean. Tapi, kurasa jawabannya telah dengan jelas dapat kulihat di depan mataku karena aku tahu persis bagaimana Kathleen itu. Kelas 8 berjalan dengan cepat hingga kami berdua terbawa oleh waktu, menuju ke kelas 9. Tak tahu mengapa, perasaanku tiba-tiba saja hilang tanpa bekas. Sama sekali tak berbekas seperti sebelumnya perasaan itu muncul secara misterius. Perasaan itu juga hilang secara misterius. Tapi, hal itu tak terjadi pada Kathleen. Ia tetap menyukai Sean dengan sepenuh hati bahkan saat Kei lulus dan melanjutkan sekolahnya ke SMA, ia tak merasa keberatan kehilangannya walaupun bisa di bilang Kathleen merasa sedikit, sangat sedikit sedih pada saat itu. Seperti yang telah kuduga sebelumnya, ia memilih untuk tetap berusaha menggapai Sean.

Kathleen pernah mengatakan padaku bahwa perasaan adalah mahkota manusia dan kita harus bisa menjaga mahkota itu baik-baik. Perasaan juga adalah anugerah dari Tuhan. Hanya dengan perasaanlah, manusia dapat dibedakan dengan makhluk lainnya. Namun, perasaan manusia sangat beragam dan salah satunya adalah cinta. Perasaan paling misterius yang tak dapat terkuak misterinya. Cinta adalah mahkota misterius kehidupan ini. Maka dari itu, ia memutuskan untuk terus bertahan dan ingin menggapai kesungguhan cintanya pada Sean. Sementara aku, kurasa selalu ada tempat untuk cita-cita. Jadi, mungkin lebih baik jika saat ini, aku hanya terfokus pada satu tujuan yaitu menggapai cita-citaku. Lalu, mungkin, aku akan menemukan mahkota misteriusku lagi, di waktu yang lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s