Oleh: Carolina Agustine

Aku adalah seorang gadis anak tunggal di sebuah keluarga kaya. Namaku Laras Delmhion. Aku hidup berkecukupan semenjak aku masih kecil. Aku memiliki banyak teman. Tapi, mereka bukan temanku. Mereka hanya meminta uang padaku. Dan tentu, aku tak memberikan uangku pada mereka. Bukan aku pelit, tapi aku tak suka cara ini. Aku menginginkan teman yang menerimaku karena sifatku, bukan karena kekayaanku! Setelah banyak kali kutolak permintaan mereka, mereka menjauhiku. Ya, lebih baik begitu. Sebab aku mencari seorang sahabat sejati. Istilahnya, aku mencari merpati pasanganku. Dialah yang akan menjadi sahabat sejatiku.

Suatu hari, seorang gadis sederhana pindah ke sebelah rumahku. Pakaiannya sederhana, namun manis. Ia cantik dan berambut panjang. Kami berkenalan. Namanya, Raras Lyons. Ibunya bekerja sebagai seorang pegawai di kantor kelurahan. Penghasilannya lumayan besar, tapi tak sebesar keluargaku. Raras tidak sekolah dan lebih memilih membantu Ibunya merawat rumah mereka saat Ibunya sedang bekerja. Ayahnya telah meninggal beberapa tahun silam. Mereka adalah keluarga yang sederhana dan penuh kehangatan. Membuatku senang bergaul dengannya. Apalagi karena ulang tahun Raras ternyata sama dengan ulang tahunku.

Raras anak yang sangat baik. Raras berbeda dari teman-temanku yang dulu. Ia tak pernah meminta uang padaku. Aku sangat menyayanginya. Aku sangat senang saat bersamanya. Saat aku sedih, dialah yang selalu menghiburku dengan segala cara. Bahkan kalau perlu, ia bisa menangis bersamaku, membiarkan kesedihanku ikut dirasakannya. Ia gadis yang baik…

Kami bersepeda di sebuah perkebunan. Maklum saja, rumah kami berada di pegunungan. Aku sangat senang bisa bersahabat dengannya. Ia memboncengku dengan sepedanya. Kami bercengkerama-ria menikmati pemandangan. “Cita-citamu apa?” tanyanya saat kami sedang beristirahat di tepian sungai. Aku memandang langit.

“Aku belum memikirkannya. Tapi yang jelas, impianku saat ini, aku ingin menemukan merpati pasanganku,” jawabku panjang lebar. Ia bingung dengan perkataanku itu. Aku tertawa. Wajahnya lucu sekali! “Merpati pasangan itu artinya sahabat sejati.”

“Oh… begitu. Kukira kamu ingin mencari belahan jiwamu,” katanya sembari tertawa, “wah… andai aku adalah merpati pasanganmu. Aku pasti akan senang sekali.”

“Begitu juga denganku,” sahutku menyela pembicaraannya. Ia tersenyum manis ke arahku dan memelukku. Pelukannya hangat, sangat menenangkan. Mungkinkah ia merpati pasanganku?

Setibanya di sebuah pertokoan, aku membelikannya sebotol minuman. Ia tak mau menerimanya dengan alasan, ia tak mau merepotkanku. Benar-benar berbeda dari teman-temanku yang terdahulu. Ia spesial! Aku memaksanya dan akhirnya ia mau meminumnya. Kami berjalan lagi setelah beristirahat sejenak. Kali ini, kami menghampiri perkebunan teh. Disana, kami disapa banyak sekali petani teh yang sedang bekerja memanen daun teh. Wah… ternyata di daerah sini, ada pemandangan yang seindah ini! Raras lah yang memberitahukanku keberadaan perkebunan ini. Aku benar-benar takjub melihat keindahannya.

Sekitar pukul 5 sore, kami pulang ke rumah kami masing-masing. Keesokan harinya adalah ulang tahun kami! Kami bersepakat untuk merayakannya di rumahku. Pesta yang meriah pun diselenggarakan. Sampai akhirnya, Kevin datang. Kevin adalah tetanggaku dan Raras. Ia anak yang baik dan suka menolong. Ssstt… ini adalah rahasia. Aku menyukai Kevin. Tapi, itu adalah cinta yang tak semestinya. Sebab, Raras juga menyukainya. Aku lebih baik melupakan Kevin daripada bersaing dengan sahabatku sendiri. Awalnya, kupikir itu mudah. Tapi ternyata, tidak semudah dugaanku. Susah sekali menyingkirkan Kevin dari ingatanku. Bahkan, aku merasa senang saat melihat Kevin datang di acara ulang tahunku ini! “Aku senang dia datang di acara ulang tahunku,” kata Raras padaku. Aku hanya bisa diam. Ya, pasti Kevin lebih memilih Raras. Lihat dia. Gadis cantik, pintar, dan baik. Idola setiap pria. Biarlah perasaanku yang bertepuk sebelah tangan ini pergi…

“Ini hadiah dariku! Susah sekali mencarinya. Memang tidak seberapa mahal, tapi ini kuberikan tulus padamu,” kata Raras dengan wajah gembira. Ia memberikan sebuah bunga beserta potnya. Bunga yang indah… “Ini bunga Edelweiss,” katanya, “indah sekali kan bunganya?” Ia tersenyum lagi ke arahku. Aku membalasnya dengan senyum. Aku memberikannya sepasang sepatu sandal berwarna merah. Dan dia menyukainya. Untunglah aku mempunyai sahabat sepertinya…

Beberapa minggu telah berlalu. Aku belum juga bisa melupakan Kevin. Tapi, sesuatu yang buruk terjadi. Ibu Raras dipindahtugaskan ke luar kota yang jauh. Itu menyebabkan Raras mau tidak mau harus ikut pindah bersama dengan Ibunya. Aku tak ingin berpisah dengannya! Tapi, apa daya bila hidup berkehendak lain? Hidup memisahkanku dengan Raras. Satu hari sebelum kepergiannya, kami pergi bermain sepuasnya.

“Hati-hati Raras! Pelan-pelan!” kataku histeris mencoba menghentikan kayuhan Raras yang cepat sekali. Raras seperti sedang kesurupan! Ia mengayuh dengan sangat cepat. Ia malah terkekeh mendengar teriakanku. Akhirnya, ia berhenti di perkebunan teh. Ia tertawa dan meminta maaf padaku. Setelahnya, kami membantu para petani teh. Hitung-hitung, menambah pengalaman. Sesudahnya, barulah kami beristirahat di sebuah pos yang tak jauh dari perkebunan teh. Kami menemukan seekor anak anjing yang tengah basah kuyub! Ia menggigil kedinginan. Dengan segera, kami membawanya ke rumah. Raras mengayuh dengan cepat dan aku menggendong anak anjing itu. Kami sampai di rumah dan segera memandikannya dengan air hangat. Ia diberi makan dan minum. Anjing itu terlihat senang. Anjing yang lucu. Kami memutuskan untuk memberinya nama, Rin. Rin kurawat. Raras tak bisa merawatnya karena Ibunya tak menyukai anjing.

Keesokan harinya, tibalah saatnya Raras meninggalkanku. Ia tersenyum ke arahku dan melambaikan tangan padaku. Di sela-sela senyumnya, jatuhlah setitik air mata. Aku menjadi tak kuat lagi. Aku benar-benar menangis karena kehilangan sahabat sepertinya. Tapi kuyakin, kami pasti bisa bertemu lagi suatu saat nanti.

Kami sering berkirim surat. Ia berkata bahwa pekerjaan baru Ibunya bergaji yang besar. Kini, ia kembali bersekolah. Aku senang mendengarnya. Tapi, Rin yang kurawat kini sudah besar dan kulepas. Dia mungkin sekarang sudah berpetualang. Semuanya berjalan lancar. Sampai pada hari ulang tahun kami 2 tahun kemudian. Aku yang kini berumur 15 tahun merayakan ulang tahunku dengan sederhana. Hambar rasanya merasakan ulang tahun tanpa kehadiran Raras… KRING KRING! Telepon rumahku berdering. Kuangkat dan kusahut dengan kata, “halo?”

“Halo, Laras? Raras kabur dari rumah, bertujuan ingin menemuimu. Tapi, Raras mengalami kecelakaan. Ayah menemukannya di sebuah persimpangan jalan! Cepat ke rumah sakit. Ibu dan Ayah sudah berada di rumah sakit sekarang. Keadaannya kritis!” kata Ibu yang menelepon ke rumah. Dengan cepat kusambar mantelku. Ini hadiah yang terburuk sepanjang sejarah hidupku. Aku memakainya dan terlihat setitik air mata hampir mengalir. Aku memasuki kamar yang ditunjukkan perawat. Kubuka pintu kamar itu dan kulihat… orang tuaku menangis. Gadis yang terbaring di ranjang itu kini dengan wajah berpenutup kain. Raras… mati?

Kevin simpati terhadapku. Ia menemaniku saat aku kesepian karena seminggu telah berlalu semenjak kematian Raras. Lalu tiba-tiba, sesuatu terjadi. Raras datang! Atau lebih tepatnya, rohnya datang! “Hai,” katanya, “masih ada ganjalan di hatiku. Aku tak bisa tenang dan akhirnya kembali lagi. Jangan kaget ya.” Oh iya, benar juga. Dia belum sempat mengucapkan rasa sukanya pada Kevin sebelum akhirnya meninggal. Dari saat itu, aku membantu Raras mendekati Kevin. Tapi suatu hari…

“Kau menyukai Kevin?” tanya Raras. Aku menggeleng. “Benar begitu?” tanyanya. Aku mengangguk. “Yakin kau membiarkanku merebutnya?” tanyanya lagi. Aku mengangguk. Maaf, aku berbohong. Aku masih sangat mencintai Kevin. Tapi, aku tak mungkin mengkhianatimu. “Kenapa kau hanya mengangguk dan menggeleng saja?! Apa benar kau tak mencintai Kevin?” bentak Raras. Kini, terlihat setitik air mata. Lho, kenapa?

“Benar. Aku tak mencintainya!” kataku meyakinkannya akan kebohonganku.

“Kau… tega sekali berbohong pada sahabatmu,” katanya. Aku tak mengerti maksudnya. Atau… ia tahu bahwa aku mencintai Kevin? “Kenapa kau berkata tidak sedangkan hatimu berkata iya? Sudahlah, hentikan ini semua!”

“Aku tak berbohong!” kataku. Ia memandangku dengan wajah sendu dan mulai menangis.

“Kumohon… katakan perasaanmu yang sebenarnya…” katanya dengan nada memelas. Aku tak kuat lagi. Aku membongkar perasaanku sendiri.

“Ya. Aku mencintainya,” kataku mulai meneteskan air mata.

“Nah, jujurlah padaku. Aku tak marah kok,” katanya dengan senyum. Ia menghapus air matanya. “Ganjalan hatiku bukan karena aku belum menyatakan cinta pada Kevin. Ganjalan hatiku adalah karena aku belum mengatakan, ‘berjuanglah’ padamu. Mulai sekarang, berbahagialah bersama Kevin. Berjuanglah!” katanya lagi. Apa? Kenapa dia berbuat begitu?

“Bukankah kau menyukai Kevin?” tanyaku.

“Memang. Tapi Kevin menyukaimu. Memang sebal kuakui, tapi ia selalu memperhatikanmu. Aku ingin sahabat terbaikku berbahagia setelah aku pergi,” katanya sendu. Aku mulai menangis. Ia sahabat sejatiku! Kini aku benar-benar yakin, ia merpati pasanganku! “Hei, kau tahu tidak?” tanyanya kini terbang menjauhiku dan menghampiri pot bunga pemberiannya yang ada di ambang jendela kamarku. Raras? Jangan bilang, dia mau pergi? “Bunga Edelweiss itu artinya kenangan yang berharga.” Wajahnya yang tersenyum mulai terlihat samar bagiku. Tunggu! Jangan pergi… jangan tinggalkan aku lagi! “Terima kasih, Laras. Kau telah memberikan kenangan terindah semasa hidupku. Terima kasih atas semua itu.” Ia tersenyum. Senyum yang paling manis yang pernah kulihat. Ia hilang. Terbang terbawa angin menuju ke Surga. Ia kini memang menghilang. Tapi sebenarnya, ia masih hidup. Hidup dalam hatiku, selamanya…

Setahun telah berlalu. Aku menjalin hubungan dengan Kevin. Dan, aku sangat bahagia. Raras, aku telah memenuhi amanatmu. Aku bisa berbahagia seperti sekarang, semua karenamu. Terima kasih karena semua itu. Kau telah memberiku kebahagiaan tak terkira…

“Sahabat sejati, takkan terpisah oleh ruang dan waktu. Takkan terpisah oleh status sosial dan keluarga. Takkan terpisah oleh agama dan umur. Akan selalu bersama. Selamanya…”

Raras Forever Laras

Dua merpati yang akan terbang melintasi luasnya langit…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s