Oleh: Carolina Agustine

 

Tahun ajaran baru telah dimulai. Clea melangkahkan kaki menuju sekolah barunya sebagai murid baru kelas 2 SMA. Gadis berambut kepangan dua itu memasuki ruangan kepala sekolah, Mrs. Renata. “Permisi, Bu. Saya Clea, murid baru…”

“Ssst…” bisik Dominic pada Wolfram, bos dari kalangan anak-anak jahil, “ada murid baru, Bos! Tapi dilihat dari penampilannya… cupu abis!”

“Biar saja. Ini tugas kita. Kita buat dia nggak betah berada di St. Orchid!” jelas Wolfram sambil menyeringai jahat.

Clea memasuki kelasnya yang baru bersama dengan Mrs. Renata. “Anak-anak,” kata Mrs. Renata hendak memperkenalkan murid baru yang memasuki kelas Wolfram, “saya punya teman baru untuk kalian. Ayo, perkenalkan dirimu.” Mrs. Renata mempersilahkan Clea memperkenalkan diri.

“Nama saya Clea Allison. Saya pindahan dari St. Trevor. Mohon bantuannya,” ucap gadis berkacamata itu. Tiba-tiba… PLUK! “Auw…” rintih Clea kesakitan ketika sebuah buntelan kertas melayang mengenai kepalanya.

“Turun kau, anak culun! Pindahan dari kampung lagi!” kata Dominic sambil tertawa puas. Tawanya diikuti oleh anak-anak geng yang lain, tak terkecuali Wolfram. Namun, ada sesuatu yang dipikirkannya. ‘Clea… Allison…? Kenapa dia ada disini?!’ pikirnya dalam hati. Wolfram mengenal Clea? Benarkah?

Mrs. Renata mendekati bangku Dominic dan mengumpatnya dengan beberapa kata kasar namun tetap anggun dan sopan. “Anak-anak, saya harap kalian dapat mengajarkan yang baik pada Clea. Ia pindahan baru, jadi masih belum tahu aturan-aturan yang berlaku. Saya meminta kalian membimbingnya,” kata Mrs. Renata, “sekian dari saya. Pelajaran akan kembali dilanjutkan. Clea, silahkan kamu duduk di belakang laki-laki berambut jabrik itu,” kata Mrs. Renata lagi sambil menunjuk ke arah Wolfram.

“Hai,” sapa Clea saat ia telah duduk di bangkunya. Wolfram tak mengacuhkannya. Clea memakluminya dan membetulkan kaca matanya yang melorot. “Boleh pinjam buku catatannya? Sekarang sudah sampai mana ya?” tanya Clea sekali lagi pada Wolfram. Wolfram terpaksa dan mau tak mau memberikan bukunya. Clea memperhatikan label namanya. “Wolfram…? Kau Wolfram?!” kata Clea setengah percaya dengan apa yang dilihatnya. Bahwa teman masa kecilnya ada di sini!

“Kau siapa? Aku tidak menenalmu!” kata Wolfram tak acuh. Clea berdiri dari dudukannya secara spontan.

“Aku pindah ke sini karena ingin mengejarmu!” sorak Clea kegirangan karena menemukan pangeran masa kecilnya yang hilang. Namun…

“Hei, murid baru, jaga sikapmu. Meskipun kau murid baru, pelajaran sedang berjalan. Kangen-kangenannya nanti saja,” kata Mr. Bradford, guru Bahasa Inggris sedikit membentak Clea. Clea kembali duduk dengan wajah memerah karena malu. Sedangkan seisi kelas sedang menertawakan tingkah konyolnya.

***

            “Gadis cupu itu mengejarmu? Tidak mungkin kan? Apa kau mengenalnya?” tanya Dominic pada Wolfram yang saat itu sedang duduk bersila di kursi kantin. Wolfram geleng-geleng kepala sambil tetap menyeruput es kelapa muda yang ada di tangannya.

Tiba-tiba, Clea menyembul dari arah ruang penjaskes dan berjalan ke arah Wolfram. “Fram, ini aku, Leah!” kata Clea tanpa ada rasa takut, “Leah Leah Fram!” kata Clea lagi sambil menari kecil dan tak jelas. Dominic tertawa karena ulahnya yang memalukan.

“Kenapa kau selalu mempermalukan dirimu sendiri? Siap-siap pindah sekolah lagi ya,” ancam Dominic dengan nada lembut. Wolfram tersenyum menyeringai yang terlihat palsu. Namun, Clea tak bergeming.

“Meskipun kau tak mengingatku, akan kubuat kau ingat kembali padaku!” teriak Clea sambil berlari lagi menuju kelas, meninggalkan Wolfram yang masih terpaku di kantin, menikmati es kelapa mudanya. ‘Leah… bebekku yang lucu. Aku masih mengingatmu, namun, aku tak mungkin lagi dapat menerimamu. Aku… sudah hancur, Leah… hancur,’ pikir Wolfram dalam hatinya, ‘maaf, aku tak punya pilihan. Aku akan membuatmu membenciku karena aku mencintaimu. Sedari dulu hingga sekarang…’

“Hei, Fram. Ayo, masuk kelas. Bel sudah bunyi tuh. Kamu kenapa sih? Mikirin apa?” tanya Dominic ingin tahu. Tapi, Wolfram hanya geleng-geleng kepala lalu menggandeng Dominic masuk kelas.

***

            Semenjak Clea bersekolah di St. Orchid, Wolfram, Dominic, Nathan, Andrew, Gale, dan kawanan jahil lainnya, mulai menjalankan aksi jahilnya yang membuat Clea tak tahan. Misalnya, hari ini…

“Aduh…” rintih Clea saat dirinya diperintah Mr. Karm untuk maju mengerjakan soal aljabar di depan kelas. Rintihan Clea itu terdengar karena saat ia hendak mengambil buku di tasnya, ia menyentuh beberapa silet tajam yang mengarah tepat ke jarinya. Teman-teman sekelas tertawa berbisik agar tak didengar oleh sang korban. Namun, bagaimana pun usaha mereka untuk menyembunyikannya, Clea tetap mendengarnya. Clea membiarkannya dan hanya bisa mengelus dada.

Tapi, semua aksi jahil itu tak berakhir hari itu. Keesokan harinya, ketika istirahat tiba, ia mendapati sekresek penuh kecoa, binatang yang sangat dibencinya. Ia berteriak-teriak ketika hewan berantena itu merambati tangannya yang lembut. “AAA!!! TOLONG AKU! SINGKIRKAN HEWAN ITU! HUSH HUSH!” teriaknya sambil berlari naik meja. Ia menutup matanya karena tak ingin melihat hewan itu merambati tasnya. Tak lama kemudian, Mrs. Vero memasuki kelas karena kaget mendengar teriakan Clea yang nyaring dan menggema di lorong.

“Ada apa ini?! Clea, turun dari meja itu!” bentak Mrs. Vero ketika mendapati Clea menaiki meja.

“Ada kecoa, Bu! Di laci meja saya!” kata Clea setengah histeris ketakutan. Mrs. Vero mengecek kebenaran laporan Clea. Namun… tak ditemukannya hewan berantena itu dimana pun.

“Kau ini terlalu mengada-ada. Sudahlah. Jangan bersikap manja seperti anak kecil. Cepat turun dan benahi kelakuanmu,” kata Mrs. Vero lalu segera pergi dari kelas. Istirahat hari itu membuat Clea pucat pasi sepanjang hari. ‘Ternyata sampai saat ini, Leah masih takut kecoa,’ kekeh Wolfram dalam hati, ‘sekali lagi maaf, Leah. Aku harus membuatmu membenciku. Agar kau menjauhiku. Dan tak ingin mengenalku lagi…’

Keesokan harinya, kejahilan yang sama kembali dialami Clea. Ketika ia berada di kamar mandi untuk membetulkan seragamnya yang sedikit berantakan, seseorang menguncinya dari luar. Lalu terdengar suara beberapa orang gadis tertawa cekikikan. “Ada-ada saja ide Wolfram untuk mengerjai Clea yang kampungan itu,” ucap gadis-gadis centil itu sambil tercekikik. Clea kesal sekaligus terkejut dengan apa yang baru saja ia dengar.

‘Wolfram? Kenapa Wolfram? Jadi, dia yang mengerjaiku sedari kemarin? Yang memberiku sekresek kecoa itu? Ia memang menjadi bos geng jahil di sekolah ini. Tapi, masa dia tega menjahiliku seperti ini? Tidak. Aku ingin mempercayainya sampai akhir,’ ujarnya dalam hati. Tak lama setelah itu, tiba-tiba, seember air dingin mengguyur tubuhnya seperti hujan di musim dingin. Sudah terkunci, basah kuyub lagi. Ia terkurung sepanjang istirahat hari itu. Hingga Mrs. Andien, guru pengurus UKS, menemukannya dan membawanya ke ruang kesehatan karena demam. Keesokan harinya, ia tidak masuk karena sakit.

Beberapa hari kemudian, Clea mulai masuk sekolah dengan dandanannya yang khas. Berkepang dua dan berkacamata. Di hari itu, kesialan terbesar dialaminya. Ketika istirahat tiba, ia tak bisa berdiri dari dudukannya. “Ada apa?” tanya Sherly, seorang gadis centil yang jarang sekali menyapa Clea. Ia tahu bahwa ini keisengan lagi, sebab Sherly terkekeh melihatnya berusaha melepas dudukannya dari kursi. “Sebentar, akan kutengok bagian kursinya,” kata Sherly lagi berpura-pura baik. “Ups! Ada lem di kursinya. Kuharap, kau nyaman dengan kursi barumu. Hihi…” Sherly pergi begitu saja. Clea terdiam… sedang Dominic dan Wolfram tertawa senang dengan apa yang telah dialami Clea.

Clea terus menunduk, tak bergerak dan tak berbicara. Dominic terus tertawa, sedangkan Wolfram sudah mulai menampakkan kekhawatirannya. ‘Ada apa dengannya?’ tanyanya dalam hati. Ia mendekati Clea. “Kau kenapa?” tanya Wolfram.

Clea tak menjawabnya. Lalu tiba-tiba, jatuh setitik air mata dari pelupuk matanya. “Apa kau sudah puas?” tanya Clea sambil tersenyum manis menghadap Wolfram. “Awalnya, aku tak percaya bahwa kau adalah dalang di balik ini semua. Aku tak ingin percaya dengan bukti-bukti yang ada di sekitarku. Tapi sekarang… baiklah, aku takkan mengganggumu lagi. Selamat… kau berhasil membuatku menyerah menggapaimu.”

“Untuk apa kau memperhatikannya, Fram?! Kau ini… hahaha…” kata Dominic tak bisa menahan tawanya. Ia menggaet tangan Wolfram dan keluar kelas. Kini tinggal Clea saja di kelas. “Aku tak ingin percaya bahwa itu kau… Fram… pangeranku yang hilang… aku telah kehilangan pangeranku sekarang. Lalu… untuk apa lagi aku berada di sini?” gumam Clea sambil terus menangis.

***

            “Wow… siapa gadis itu?!” tanya Nathan ketika seorang gadis cantik jelita, berambut ikal, berlensa coklat, dan tinggi menyusuri lorong. “Murid baru ya?”

“Wah… ada gadis secantik ini, tak boleh di sia-siakan!” sahut Dominic, tangan kanan Wolfram. Wolfram mengangakan mulutnya… sebab ia tahu siapa gadis itu.

“Dia… Clea…” katanya setengah tak percaya dengan gadis cantik di depannya. Gadis itu menatapnya dengan mata indahnya.

“Hai…” sapanya sambil tersenyum ramah, lalu berlalu begitu saja, tanpa ada rasa apapun. ‘Apa itu kau, Gadisku? Kenapa kau… jadi sejelek itu…? Kenapa kau tidak seceria yang biasanya? Meski kau cantik secara fisik, kenapa separuh dirimu seperti hilang? Aku tak merasakan Clea yang dulu lagi… kemana dia? Apa dia telah membenciku?’ pikir Wolfram. Tak terasa, air matanya menggenang di pelupuk matanya.

“Seharusnya, aku senang dengan ini semua,” gumamnya lirih. Dominic memandangnya.

“Apa yang baru saja kau katakan?” tanya Dominic tak mendengar Wolfram. Ia hanya memperhatikan gadis cantik itu.

“Tidak, aku tak berkata apa-apa,” jawab Wolfram berusaha menutupi kesedihannya.

“Tak kupercaya gadis itu Clea!” kata Dominic sambil menepuk dahi.

***

            Hari-hari berlalu dengan dingin. Clea menjadi gadis populer di Sr. Orchid dalam waktu seminggu. Wolfram dan gengnya sudah tak lagi mengganggu Clea. Malah mengaguminya. Hingga suatu hari, Wolfram yang duduk di depan Clea, mulai merasa hampa. “Leah, boleh aku pinjam kamus?” tanya Wolfram.

“Boleh. Pinjam saja,” kata Clea tanpa memandang Wolfram. Ia terlalu memperhatikan buku pelajarannya.

“Dimana kamusnya?” tanya Wolfram berusaha agar Clea menatap dirinya.

“Bukannya di hadapanmu persis? Sudahlah, jangan menggangguku,” kata Clea tak acuh sambil tetap memperhatikan bukunya dan menulis. Wolfram mengambil kamus itu dengan wajah sedih dan terpukul. Baru ia sadari… ia merindukan Clea dan membutuhkannya. ‘Kini, ia benar-benar membenciku dan menjauhiku. Kenapa… aku merasa sedih? Harusnya, aku senang kan?’ pikir Wolfram.

***

            “Leah Leah Fram!” kata seseorang dalam mimpi Wolfram.

“Fram Fram Leah!” kata Wolfram menyahuti orang itu.

“Fram Leah abadi selamanya!”

“LEAH!” teriak Wolfram terbangun tengah malam. Ia mendapat mimpi, sesuatu yang sangat dirindukannya. “Leah… bodohnya aku menyia-nyiakanmu hanya karena perceraian orang tuaku. Bukankah cinta kita… abadi selamanya?”

***

            “Leah,” kata Wolfram mengejar Clea yang berjalan cepat, “aku ingin mengatakan sesuatu padamu.”

“Cepatlah. Aku tak punya waktu,” kata Clea tetap berjalan mengacuhkan Wolfram. Wolfram berlari, tak ingin kehilangan Clea.

“Jangan seperti itu padaku,” katanya.

“Apa maksudmu? Kau siapa? Kau itu musuhku! Jelas aku tak ingin diganggu olehmu! Kalau tak ada yang ingin disampaikan, cepat pergi dari hadapanku, dan jangan ikuti aku lagi,” kata Clea semakin kejam. ‘Maafkan aku, Wolfram… sebab aku tak ingin menerima kenyataan bahwa kau telah berubah… kini, kita hidup di dunia yang sama, tapi jiwa kita serasa berbeda. Kau musuhku dan aku musuhmu. Persahabatan itu seperti tak pernah ada dalam hati kita. Meski aku tak bisa melupakanmu, tapi bukankah kau tak ingin kuganggu? Aku akan menjauhimu sebisaku,’ kata Clea lirih dalam hatinya.

Wolfram dengan cepat menggenggam tangan Clea. “Kumohon, jangan siksa aku seperti ini lagi…” katanya lirih.

“Apa maksudmu?” tanya Clea berusaha sekuat tenaga membendung air matanya.

“Aku…”

“Bukankah kau tak mau kuganggu? Aku telah menjauhimu dan tak ingin mengenalmu. Puas kan? Aku sudah tak mengganggumu. Apa lagi salahku kali ini, Fram…? Belum puaskah kau menggangguku?!” kata Clea sambil menitikkan sebutir mutiara dari matanya. Cepat-cepat, ia melepaskan genggaman tangan Wolfram dan pergi meninggalkan pria itu sendirian dalam kemalangan.

“Kau… pergi meninggalkanku…?” kata Wolfram bermonolog. Beberapa siswa yang melihat kejadian itu hanya mengangakan bibir, tak percaya dengan apa yang baru saja mereka saksikan. Wolfram? Cowok super kejam itu menyatakan cinta? Pada Clea?

***

            Makin hari, Clea makin dingin pada Wolfram. Begitu juga dengan Wolfram. Mereka berdua seperti sedang berada di tengah zaman dimana berbicara adalah hal yang dilarang. Jarang sekali mereka berbicara. Mungkin hanya sekedar urusan pelajaran. “Leah, ada yang ingin kubicarakan,” kata Wolfram mencoba untuk mengakhiri semua perang dingin di antara mereka.

“Tak ada yang perlu dibicarakan lagi,” kata Clea lalu menghindari Wolfram. Wolfram meringkuk seorang diri dalam keheningan suasana kelas.

“Bukankah ini keinginanmu, Fram? Kini, ia membencimu! Bukankah… ini yang kau kehendaki, Fram? Agar ia membencimu?! Lalu, kenapa sekarang aku seperti hidup dalam kehampaan??!” teriak Wolfram dalam kesendiriannya. Ia mulai dirundung depresi seorang diri. “Ya, Leah… bencilah aku seperti kau mencintaiku dahulu kala…”

***

            “Leah,” ucap Wolfram pada Clea saat mereka berpapasan di lorong kelas, “aku ingin…”

“Oh, Lenathan! Kau habis darimana saja? Kutunggu sedari tadi,” kata Clea malah berlari menghampiri seorang cowok di belakang Wolfram. Ia berusaha untuk cuek dengan perkataan dan sapaan yang diungkapkan sahabat masa kecilnya itu. ‘Maafkan aku, Fram… aku harus tega melakukannya padamu. Itu kan yang kau inginkan?’ pikir Clea dalam hati. Tak terasa, air mata sudah hampir terjatuh dari bak penampungannya. Wolfram yang mulai sadar bahwa Clea menghindarinya akhirnya menjauhi Clea dan berjalan ke arah berlawanan. Clea berjongkok sambil mengelap air matanya.

“Clea? Kau kenapa?” tanya Lenathan yang bingung dengan sikap Clea. Clea berusaha menghentikan air matanya. Tapi tak bisa… ‘Kenapa kau tak bisa melihatku? Aku datang jauh-jauh ke sini, hanya untuk dirimu. Bukan yang lain. Namun, kenapa kau juga tak bisa melihatku? Apa kau sudah benar-benar tak mengenaliku lagi?’ pikir Clea dalam hati. “Clea, apa kau sedang sedih? Kalau begitu, boleh aku menghiburmu? Izinkan aku untuk memasuki ruang hatimu. Sebab, aku mencintaimu…”

***

            “Guys! Ada berita heboh!” seru Nathan sambil berlari ke arah Wolfram dan kawanannya.

“Berita apa? Kau ini mengagetkanku saja!” seru Dominic seraya memukul kepala Nathan. Nathan mengaduh kesakitan sejenak, lalu melanjutkan perkataannya.

“Percaya nggak Clea sudah punya pacar?” DEG… jantung Wolfram serasa berdetak semakin cepat. “Gosipnya, sang ratu baru di sekolah kita itu sekarang sudah berpacaran dengan si ketua OSIS yang kuakui memang cool, Lenathan!”

“Lenathan?!” sorak Wolfram terkejut dengan pernyataan yang baru saja ia dapat.

“Iya. Ada apa?” tanya Nathan yang bingung melihat tingkah laku bosnya. Dominic dan kawanan yang lain malah tertawa cekikikan mendengar gosip itu. Sedangkan Wolfram buru-buru mencari Clea di seluruh ruangan.

“Wolf! Kau mau kemana?!” teriak Dominic mencoba mengejar bosnya itu. Namun… tak berhasil…

***

“Aku tahu aku salah. Selama ini, kau tak salah dalam hal apapun. Akulah yang memungkiri kenyataan!” kata Wolfram cepat-cepat ketika menemukan Clea di ruang OSIS yang sedang sepi. Maklumlah begitu, sebab Clea memang baru saja diangkat menjadi sekretaris OSIS.

“Apa maksudmu?” tanya Clea yang tak mengerti apapun yang diucapkan Wolfram padanya.

“Kau pacaran dengan ketua OSIS kan?” tanya Wolfram dengan nafas masih tersengal-sengal. Ia membungkuk 90° sambil mengelap keringat yang mengucur dari dahinya.

“Hah? Kenapa ada berita seperti itu? Nggak kok. Lenathan memang menyukaiku, tapi… aku menolaknya,” jawab Clea sambil berusaha sekuat tenaga agar ia tak terlihat memberi harapan pada Wolfram, ia berwajah datar seolah cuek dengan kedatangan Wolfram.

“Syukurlah aku tidak terlambat…” ucap Wolfram spontan, membuat hati gadis yang ada di hadapannya itu berbunga-bunga, “sebenarnya, Leah, aku mengenalmu. Aku adalah Wolfram, teman masa kecilmu yang kau cari itu. Aku berusaha keras untuk menutupi segala kekacauan yang terjadi di hidupku sekarang. Aku tak ingin kau tahu bahwa… orang tuaku sudah bercerai. Aku ini anak terlantar. Ibu berselingkuh dan Ayah nggak tahu kemana. Kumohon, maafkan aku… aku hanya tak ingin kau mengetahui parahnya kondisi keluargaku. Aku…”

Tanpa pikir panjang, Clea memeluk Wolfram dan menangis di pundaknya. “Separah apapun keluargamu, aku tak peduli. Yang jelas, kau ada di sisiku. Hanya itu yang kuinginkan. Jika kau berpikir bahwa aku akan membencimu hanya karena kondisi keluargamu, kau salah besar. Sebab rasa sayangku padamu jauh lebih besar dibanding apapun. Jadi, kumohon… jangan tindas aku dan jangan paksa aku untuk membencimu lagi… sebab itu menyakitkan.”

“Tidak akan. Aku takkan menyia-nyiakanmu untuk kedua kalinya. Aku tetaplah aku… Wolfram. Dan kita akan abadi selamanya. Fram Fram Leah! Fram Leah abadi selamanya…” kata Wolfram dengan mata berkaca-kaca. “Jadi… kumohon. Cintailah aku seperti kau membenciku. Ya, Bidadariku…?”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s