Oleh: Carolina Agustine

 

“Ayah!” rengek Dinda sepulang dari sekolah. Aku yang sedang mengerjakan tugas kantor segera menghampirinya.

Aku mendekatinya dan berjongkok untuk menghapus air matanya yang berderai. “Ada apa?” tanyaku lembut, “kenapa Dinda menangis?”

“Rani, Yah! Rani membohongiku! Dia jahat! Katanya, dia sayang aku. Dia ingin jadi sahabatku! Tapi kenapa ia berbohong padaku? Bahkan kata Rendra, dia menjelek-jelekkanku tanpa sepengetahuanku,” katanya sambil tetap menangis. Rani? Bukankah Rani adalah sahabatnya?

Aku menenangkannya dan mengelap peluh air mata yang turun dengan derasnya. Kugendong Dinda dan kuturunkan di sebuah sofa empuk. Aku duduk di sebelahnya. “Kamu sahabatnya kan? Apa kamu percaya dia? Kalau kamu tidak mempercayai berita yang kamu dengar dari Rendra, jangan dengarkan berita aneh itu. Tetaplah mempercayai Rani,” ucapku. Dinda memperhatikanku dengan seksama, bahkan air matanya tak menetes lagi. Ia tersenyum dan mengangguk.

“Ya. Aku mempercayainya,” katanya. Aku membalas senyumannya dan kemudian membetulkan kaca mataku yang melorot. Dinda tetap memperhatikanku. Tiba-tiba, ia bertanya, “apa Ayah pernah punya sahabat?”

Aku menatap matanya yang seolah menginginkan jawaban dariku. Aku tersenyum sumringah dan mengangguk. “Tentu saja pernah. Bahkan lika-liku kehidupan sepertinya ingin memisahkan kami.” Aku memandang tatapan Dinda yang benar-benar dipenuhi perasaan penasaran. Aku tertawa karenanya. “Mau mendengar kisahnya?” Dinda mengangguk dengan cepat. Aku mendesah dan kembali menatapnya. “Kisah ini tercipta saat Ayah berumur 14 tahun. Tepatnya, di bangku kelas 3 SMP…”

21 tahun silam…

            “Andiiii!!! Oper bolanya padaku!” teriak Rico yang berseru padaku. Aku yang menggiring bola sepak di lapangan hijau itu tersentak oleh suaranya yang nyaring. Spontan, aku menoleh ke arahnya dan memberikan bola di kakiku padanya. Ia menerimanya dengan tanggap dan segera berlari menuju gawang lawan. Ayo, Rico! Waktunya tinggal setengah menit lagi!

Tepat saat waktu menginjak ¼ menit terakhir, Rico berada tepat di depan gawang lawan, bersiap untuk menembakkan bola terakhir di pertandingan yang saat itu berangka seri 2-2. “Ayo, Ric! Kau pasti bisa! Tendang si botak itu dan mencetak kemenangan bagi SMP kita!” teriakku dan kawan-kawan memberi dukungan untuknya. Ia segera menembakkan serangan terakhir, dan… gol! Bola itu memasuki gawang! Dengan ini, point menjadi 3-2! Point terakhir untuk pertandingan terakhir bagi tim sepak bola kelas 9.

“Kau hebat, Ric! Memang pantas menjadi kapten kami,” kata Rizal, kiper di tim kami. Ia mengacak-acak rambut Rico dan Rico tertawa. Aku hanya bisa memandangi mereka. Rico menghampiriku.

“Operanmu bagus, Di! Thanks ya!” katanya. Aku tersenyum. Kami berdua adalah sahabat yang akrab sejak ia masuk di SMP ini. Rico adalah pindahan dari kota tetangga. Pertama kali memasuki SMP ini di kelas 7, ia tidak punya teman dan selalu menyendiri. Makanya, aku mendekatinya dan menjadi sahabatnya. Bahkan sampai sekarang…

Aku dikenal sebagai siswa yang pintar dan menjadi juara kelas. Sedari kelas 7 sampai sekarang, aku tetap menjadi nomor satu di antara yang lainnya. Sedangkan Rico? Tidak, ia tidak mengikutiku. Ia menjadi anak terbandel dan anak yang berkasus. Berkali-kali ia membuat guru jengkel karena tingkahnya. Apalagi karena gerombolannya yang salah. Sudah berkali-kali aku memperingatkannya, tapi tak didengarnya. Saat aku menceramahinya dengan segala nasihat baikku, ia hanya berkata, “iya, Pak. Kalau saya ingat, saya akan berubah.” Setelahnya…? Ya, seperti kata kebanyakan orang tua yang mendidik anak bandelnya. Masuk telinga kanan, keluar telinga kiri. Ia tak pernah mendengarkannya dengan serius.

Saat pelajaran matematika… “Psst… Di, kau sudah kerja PR?” tanyanya sambil berbisik ke arahku. Aku yang saat itu sedang duduk di bangku paling depan, mendengarkan Bu Susan menerangkan kesebangunan dan kongruensi, mau tak mau harus menoleh ke arah sahabatku itu yang duduk di bangku pojok belakang. Berkali-kali aku mengajaknya untuk duduk bersamaku di bangku depan, ia ngotot tidak mau. Katanya, ia bisa tidur puas di bangku pojok.

“Sudah. Kenapa? Mau pinjam?” tanyaku dengan wajah jengkel. Ini bukan pertama kalinya ia meminjam PR matematikaku. Mungkin sudah… ke-99 kalinya. Sudahlah. Tak terhitung… Ia mengangguk dengan senyum tak berdosa. Aku yang memang merasa jengkel karena ulahnya lagi-lagi mau tak mau memberika PR matematika yang sudah susah payah kukerjakan sampai mengganggu waktu tidurku. Kalau bukan karena ia sahabatku satu-satunya, aku takkan membantunya! Untunglah ia masih sahabatku… Kejadian pinjam meminjam PR itu berlangsung berkali-kali.

Saat pelajaran sastra… Terdengar dengkuran keras seseorang dari bangku pojok belakang. Bangku kesukaan Rico dan masih didudukinya. Pak Randy adalah guru sastra yang tidak mentolerir adanya pelanggaran dalam kelas. Ia segera mendekati Rico dan memandanginya sambil membawa tongkat papan. “RI-CO! Keluar kamu dari kelas saya! SE-KA-RANG!” bentak Pak Randy. Bentakan itu membuat Rico terbangun. Ia malah menyahutnya dengan…

“Eh… apa, Pak?” tanyanya linglung seperti orang bodoh. Aku ingin tertawa karena tingkahnya, tapi tak bisa karena menahan malu. Apalagi…

“Hei, Andi,” kata Rita yang ada di sebelahku, juara kedua, “itu sahabatmu? Tak disangka, Rico yang berkasus kau pilih menjadi sahabatmu. Kau salah pilih, Di.” Aku hanya bisa menatap lurus pada papan tulis tanpa menatap Rico yang sedang dihajar habis-habisan oleh Pak Randy. Alhasil, tak lama setelahnya, Rico sudah berdiri dengan satu kaki di depan kelas. Aku tak bisa menatap wajah orang-orang yang memandangku sebagai “sahabatnya Rico”. Sepanjang pelajaran, aku menunduk sambil tetap mendengarkan penjelasan Pak Randy tentang iklan dan sebagainya. Tak tahulah apa artinya. Hari itu, aku benar-benar merasa galau…

Saat pelajaran IPA… “Andi!” katanya berusaha menyaingi keramaian yang tercipta di laboratorium berhiaskan tengkorak itu. Ia mendekatiku dan menarikku menuju tempat sepi. Di kelas memang sudah banyak anak yang datang. Jadi agak susah untuk berkomunikasi satu sama lain. “Hei, kau mau membantuku kan?” tanyanya. Ia mengedipkan sebelah matanya. Ya, aku tahu apa artinya itu. Ia ingin meminta bantuanku supaya dia bisa bolos dengan nyaman. Sering sekali ia melakukannya. Bolos di tengah pelajaran.

“Hari ini, apa alasannya?” tanyaku dengan wajah kesal. Ia malah tertawa.

“Jangan bermuram durja begitu. Besok, aku janji tidak bolos. Tapi mungkin, besok lusa, aku bolos lagi,” katanya dengan sangat enteng dan kemudian disusul dengan suara tawa. “Hari ini, bilang saja aku sedang tidak enak badan dan izin pulang cepat.” Aku mengangguk mengiyakan permintaannya. Sabar, Di… dia sahabatmu. Sabar…

Saat pelajaran IPS… “Pssst…! Andi!” katanya berbisik padaku. Aku tak menoleh padanya. Aku tetap fokus pada ulangan mendadak yang diadakan Bu Prisca. Sebenarnya, aku mendengar bisikannya itu. Aku tahu tindakannya yang seperti itu. Rico yang tidak pernah belajar itu pasti ingin meminta jawaban padaku. Bukan sekedar jawaban. Tapi semua jawaban dari soal itu. Ugh… Aku ingin menolongnya, tapi kalau kubantu, berarti aku bukan teman yang baik. Kalau tidak kutolong… kasihan dia… Biarlah! Ia harus berusaha. Berpikir memeras otak! “Psst… Andi! Hei!” Ia tetap memanggil-manggil namaku, membuat Bu Prisca menoleh padanya dan padaku secara bergantian. Ia menampakkan senyum.

“Andi,” ucapnya sambil menatapku. Aku sontak menatapnya. “Rico memanggilmu,” katanya sambil tertawa memandang Rico. Aku tetap mengerjakan soal ulangan di depan mataku tanpa menghiraukan teman-teman sekelas menatap Rico dan menertawakannya. Aku malu menjadi sahabatnya…

Aku takkan membahas perlakuan kurang ajarnya di berbagai kelas. Karena… sudah banyak tingkahnya yang aneh. Mungkin aku sudah sebagian lupa. Dan yang kuingat hanya itu. Sudahlah. Bicara tentang kasus, pernah sewaktu waktu, aku terlibat kasus karenanya.

“Apa yang kamu lakukan, Rico! Memanjat pagar belakang sekolah saat pelajaran PPKN adalah hal yang kurang ajar! Dan kamu juga, Andi!” kata Bu Rini menatapku. Bu Rini adalah guru bagian tata tertib di SMP Harapan Bangsa ini. Dan ia memiliki sifat yang sama dengan Pak Randy, tidak akan berbelas kasihan meski yang berbuat salah itu adalah anaknya sendiri. Ia menatapku lekat-lekat dengan tatapan tajam dan tangan mengepal, seperti harimau yang siap menerkamku. “Tak kusangka, Andi yang selama ini dibanggakan malah akan jadi rusak seperti ini!”

“Maaf, Bu. Saya benar-benar menyesal…” kataku dengan nada sendu, berharap aku segera dimaafkan. Aku juga menundukkan kepala menunjukkan rasa penyesalan yang teramat sangat kurasakan. Aku tidak ingin turun pangkat dari “anak teladan” menjadi “salah pergaulan”. Rico malah tertawa melihat tingkahku yang gelagapan karena ulahnya.

“Kamu kenapa, Rico?! Saya rasa, Andi sudah menunjukkan penyesalannya. Kenapa kamu malah tertawa dengan tak bersalah dan tanpa ada rasa penyesalan?!” bentak Bu Rini ke arahnya. Aku tetap menundukkan kepala. Bu Rini menyeret Rico menjauhiku. Mereka berbicara berdua. Sekitar 10 menit kemudian, Rico meninggalkan kami berdua di tempat itu, tinggal aku dan Bu Rini. Ia mendekatiku yang masih dengan posisi kepala menunduk. “Andi, Ibu rasa, kamu salah pilih teman. Jangan sampai Rico yang bandel dan berkasus itu merusak pendidikanmu. Cari teman yang pantas untukmu. Jangan Rico. Dia pasti akan membawa dampak buruk untukmu,” kata Bu Rini menasihatiku. Kurasa, perkataannya benar. Tapi, aku harus bagaimana? Aku takut mengatakannya pada Rico. Aku menghampiri Rico dan menyatakan bahwa kita berdua tak pantas bersahabat? Apa seperti itu? Aku bukan tipikal nekat seperti Rico. Aku adalah tipikal orang yang berpikir panjang sebelum mengambil keputusan.

Tak lama setelah mendapat ceramah dari Bu Rini, aku kembali ke kelas dengan wajah sedih dan bingung. Apa yang harus kulakukan?

Sejak saat itu, aku sedikit menjauhi Rico dan menjadi lebih dekat dengan saingan terberatku, Rita. Ia yang selalu duduk di sampingku lambat laun menjadi sahabat karibku. Ya, mungkin aku harus mendekati Rita dan menjauhi Rico. Tapi, ada yang berbeda. Pandanganku dan Rita dalam suatu permasalahan, selalu menemui jawaban yang sama. Berbeda dengan kami, jawaban Rico pasti tidaklah se-ilmiah pemikiran kami. Tapi, aku merasa aneh. Aku dipenuhi sebuah pemikiran. Seperti pemikiran bahwa… “aku lebih suka cara Rico menunjukkan pemikiran spontan dalam dirinya dengan gaya khasnya, tidak dibuat-buat karena pemikiran itu langsung dari dalam dirinya”. Mungkin, itulah yang kusuka dari Rico. Makanya, ia selalu bisa membawa keceriaan bagiku. Tapi aku tidak bisa menerimanya sebagai “teman yang pantas”, seperti kata Bu Rini.

Sudah seminggu berlalu. Kuperhatikan… sepertinya, Rita adalah gadis yang cantik. Aku sedikit terpikat padanya. Kenapa aku tak pernah melihatnya sedari dulu? Mungkin karena aku ini culun di pandangan orang lain. Terlalu memikirkan pelajaran dan pertemanan. Hubunganku dengan Rico pun sedikit merenggang. Ia tak lagi meminta bantuanku, seperti saat mencontek dan membolos. Tapi anehnya, ia juga semakin mendekati Rita. Sebenarnya, aku sedikit cemburu karena Rita juga dekat dengannya. Ah… kenapa ia melakukan itu? Apa ia akan merebut Rita dariku?

Hubungan kami bertiga seperti ini adanya. Sampai pada hari ujian tengah semester. Seperti biasa, aku duduk di bangku paling depan dan Rico di bangku pojok belakang. Sedangkan Rita berpindah bangku. Ia pindah ke bangku belakang di samping Rico. Memang kuakui Rico tampan dan cocok bila disandingkan dengan Rita. Tapi, apa Rita juga akan dirusaknya?

Mata pelajaran matematika. Rita memang paling jago dalam hal ini. Berkali-kali kudengar saat ujian berlangsung, Rico mengancam Rita lewat bisikan. “Pssstt… Rit, jawaban dan cara no. 2 apa?” tanyanya. Rita tak mau menjawabnya dan kembali berfokus pada ujian. Rico berbisik sekali lagi, “Rit! Kau ini jahat sekali! Masa meminta begitu saja tidak kau beri?” Rita dengan terpaksa memberikan jawabannya pada Rico yang kerjanya hanya bisa mencontek pada ujian itu. Aku sudah tak tahan dengan sikapnya yang kekanakan!

Sepulang sekolah di hari terakhir ujian, aku berbicara berdua dengannya di lapangan basket belakang sekolah. “Hei, Ric, kau mengancam Rita di ujian matematika kan?” tanyaku setengah membentak, “oh tidak. Lebih tepatnya, di semua mata ujian. Benar kan?!”

“Tidak. Apa buktimu menuduhku seperti itu?” jawabnya malah balik bertanya.

“Aku memang tak punya bukti apapun. Tapi aku mendengarnya, Ric! Sudah! Jangan perlakukan Rita seenaknya! Ia takut diancam olehmu!” kataku membela Rita. Kasihan dia jika harus setiap hari meladeni ulah Rico yang mulai menjadi buas.

“Oh… rupanya, kau sekarang sudah bisa menjadi pahlawan ya. Atau jangan-jangan…” ia berhenti sejenak dan tertawa, kemudian melanjutkan perkataannya, “kau suka pada Rita?”

“Memang kenapa? Itu bukan urusanmu!” kataku. Ia malah tertawa lebih keras. Aku memasang wajah jengkel. Ya, sudah tak tahan aku melihat sikap meremehkannya itu.

“Oh ya? Bagaimana jika Rita kuambil darimu? Kurasa, ia lebih tertarik padaku daripada dirimu,” katanya tambah membuatku seakan berada di dapur penuh kompor. Panas!

“Jangan kurang ajar kamu, Ric!” kataku mulai memukul Rico. Aku sudah tak kuat menahan segala penat yang kusimpan sedari dulu hingga sekarang. Ia selalu memperbudakku untuk menjalankan aksi kekanakannya itu. Ia bukanlah murid yang baik. Ia juga bukan murid yang buruk. Ia adalah murid yang hancur!

Ia memegangi tepian bibirnya yang mulai berdarah. Dengan gerakan cepat, ia memukulku dan menyebabkanku jatuh tersungkur ke tanah. Ia mencengkeram kerah seragamku. “Jangan macam-macam kau! Kau memang sahabatku, tapi jangan harap aku mengasihanimu. Kau sudah mencari gara-gara dengan memukulku barusan. Maka kau akan habis di tanganku!” Ia kembali memukulku hingga kaca mataku terlempar. Saat ia hendak meluncurkan serangan ketiga, Bu Rini diikuti Pak Ravi, pelatih basket yang bertanggung jawab atas lapangan yang sedang kugunakan untuk bergelut-ria dengan Rico. Bu Rini membantuku membersihkan seragam dan merapikan kaca mataku sedangkan Pak Ravi membantu Rico meredakan amarahnya.

“Apa yang kau lakukan, Rico?!” bentak Bu Rini. Rico tetap melotot ke arahku. Membuat nyaliku semakin ciut. Tak kusangka semua akan jadi begini.

“Dia yang mulai memukulku duluan, Bu!”

“Tidak! Dia berbohong!” kataku. Ah… Apa yang kukatakan?! Aku yang memukulnya, kenapa aku berbohong?! Rico terdiam, memandangku tak percaya. Aku menundukkan kepala, merasa bersalah. Tapi, apalah artinya itu?

“Rico, kamu memang anak bandel! Saya sudah merasakannya sedari awal kalian berteman. Kalian memang tidak cocok. Rico yang berada di dunia berandalan bersahabat dengan Andi yang berada di dunia ilmiah dan logika. Kalian sama sekali tidak bisa bersahabat!” bentak Bu Rini seolah membuatku terhenyak. “Kau bukanlah sahabat yang baik untuk Andi!”

Rico dan aku menundukkan kepala saat digiring menuju ruang kepala sekolah. Rico membisikkan sesuatu kepadaku. “Apa kau merasa yang dikatakan Bu Rini itu benar?” Aku tetap menundukkan kepala tanpa menjawabnya. Rico memandangku sedih. Ia kemudian berbisik lagi, “baiklah. Aku akan menjauhimu dan kau jauhi aku.”

Semenjak saat itu, kita tak lagi bertegur sapa. Bahkan berbicara satu sama lain pun tak pernah. Kami seperti sedang perang dingin. Hari itu, penyelesaian masalahnya berakhir dengan damai. Rico mendapat hukuman “membersihkan seluruh toilet sepulang sekolah setiap hari selama satu minggu”, dan aku mendapat hukuman “membantu Bu Rini menilai hasil ujian seluruh murid selama satu minggu”. Hukuman yang benar-benar tidak adil, dan kupikir Rico juga berpikir sama denganku. Sesuai perintah, kami menghabiskan waktu bersantai kami karena harus menjalankan hukuman. Menurutku, hukuman yang kuterima sangat menguntungkan dan aku menikmatinya. Bisa belajar sambil mengobrol dengan Bu Rini yang ternyata tidak sekejam perkiraan anak-anak yang lain. Berbeda denganku, mungkin hukuman yang diterima Rico sangat kejam. Setiap hari sepulang sekolah, Rico harus bergelut dengan bau kamar mandi yang menyengat hidung dan bisa mengakibatkan rusaknya indera penciuman kita. Ugh… tak sanggup aku membayangkannya.

“Lalu, Ayah dan teman Ayah itu bermusuhan sampai hari ini?” tanya Dinda saat menyimak ceritaku dengan seksama. Aku menggeleng dengan senyuman menyungging.

“Tentu saja tidak. Masih ada kelanjutannya…” kataku. Aku kembali meneruskan ceritaku.

Beberapa bulan telah berlalu sejak pertengkaran sengit itu. Aku dan Rico tetap tak berbicara satu sama lain. Ia juga sering bolos tanpa sepengetahuanku, tanpa minta bantuanku. Tak pernah meminjam PR padaku. Juga tak pernah menggangguku saat ulangan. Seharusnya, aku suka jika tak diganggu seperti itu lagi. Tapi, kenapa aku malah jadi sedih dan kesepian?

Aku memutuskan untuk mengajak Rico mengobrol berdua. “Ada apa? Apa aku melakukan hal yang salah padamu? Kalau benar, aku minta maaf,” katanya tanpa menatap mataku. Aku risih akan hal itu. Aku tetap terdiam. Aku tak bisa berkata. Hubungan kami jadi sedingin ini. Aku… aku menyesal telah membencimu hanya karena kamu anak yang bandel. Aku seharusnya menjadi sahabat yang baik bagimu. Selalu mengingatkan kesalahanmu, selalu membuatmu kembali ke jalan yang benar, selalu menuntunmu menuju kesuksesan. Bukan malah pergi saat kau hancur. Aku bukan sahabat yang baik. Makanya, aku kesal pada diriku sendiri. Aku membenci diriku yang tidak setia kawan ini! Tiba-tiba, setitik air mata jatuh membasahi pipiku dan menetes ke tanah yang kering. Rico melihatnya. “Di, kau kenapa? Ada apa? Kenapa kau menangis?” tanyanya dengan cepat dan nada panik, “apa ada seseorang yang mengganggumu? Beritahu aku, siapa orang itu. Dia akan mati di tanganku.” Aku memeluknya. Kaca mataku basah karena derasnya air mata kesedihan yang tak bisa kutahan.

“Maafkan aku, Ric. Aku bukan sahabat yang baik untukmu. Seharusnya, aku sebagai sahabatmu lah yang akan membimbingmu menuju kebenaran, bukan malah meninggalkanmu saat kau sedang hancur seperti ini. Maafkan aku. Aku memang sahabat yang sangat buruk,” kataku sambil memejamkan mataku. Mungkin aku takkan dimaafkan Rico karena pengkhianatanku ini. Yang jelas, aku sudah meminta maaf dan entah karena apa, perasaanku menjadi sangat lega. Rico terdiam tak membalas pelukanku. Aku sadar diri dan segera melepas pelukanku. Mungkin memang tak ada lagi pintu maaf bagiku… Sudahlah. Ini adalah suatu pengalaman tak terlupakan untukku. Aku berjalan menjauhi Rico. Tapi kemudian…

“Mau kemana kamu, Di? Aku akan menemanimu. Bukankah kita… sahabat?” tanya Rico dengan tersenyum. Saat mendengar kata-katanya, aku percaya tidak percaya ia mau memaafkanku. Aku menoleh padanya dan berlari memeluknya sekali lagi. Kali ini bukan dengan tangisan, tapi dengan senyuman. Senyuman lega yang melampiaskan segala bentuk perasaan. Dari lega, senang, dan bahagia.

Ujian terakhir… Ujian Nasional yang akan menjadi standar kelulusan kami, para siswa kelas 9. Huft… akhirnya datang juga. Aku sudah siap. Latihan setiap hari ditemani Rico telah menempa diriku menjadi seorang siswa yang cerdas. Aku pasti bisa! Aku memandang Rico. Rico kini duduk di sebelahku, di bangku yang sering ditempati Rita. Ia begitu serius mengerjakan soal UNAS. Ia juga tidak lagi tertidur, membolos, ataupun mencontek saat pelajaran sedang berlangsung. Ia benar-benar sudah kembali ke jalan yang benar sekarang.

Hari kelulusan. Aku lulus dengan nilai yang amat baik dan nyaris sempurna, sedangkan Rico berhasil lulus dengan nilai yang memuaskan. Yang terpenting baginya bukanlah nilai tapi… “yang penting, aku sudah lulus”. Semua akan berakhir setelah hari kelulusan ini, atau istilahnya hari pelepasan. Rico akan pergi ke luar kota untuk melanjutkan pendidikan SMA. Di hari kelulusan itu, tawa bercampur tangisan mengantar kami menuju kehidupan yang lebih dewasa lagi…

Yang kupelajari dari persahabatanku dengan Rico bukanlah kebandelan ataupun ketidakdisiplinan Rico. Yang kudapat darinya adalah:

  1. Setiap ada kemauan, kita pasti bisa berubah menjadi lebih baik.
  2. Pengalaman menempa kita menjadi orang yang sukses di masa mendatang.
  3. Sahabat akan selalu ada saat orang lain membutuhkannya.
  4. Orang yang tidak disiplin bukan berarti orang yang hancur dan harus dijauhi. Malah mereka adalah orang yang butuh bimbingan dan kasih sayang dari orang lain.
  5. Kesetiakawanan dan kepercayaan adalah hal terpenting dalam suatu persahabatan.
  6. Ketidakdisiplinan akan menempa kita menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnya.

“Lalu, Om Rico sekarang dimana?” tanya Dinda. Aku mengangkat bahu.

“Ia tak mau menyebutkan alamat rumahnya. Tapi yang jelas sekarang, ia sudah ada di Jakarta. Dan sudah menjadi orang sukses seperti Ayah,” jawabku. Dinda tersenyum ke arahku.

“Aku akan memaafkan Rani. Aku percaya, dia takkan melakukannya. Aku takkan meninggalkannya dan akan membuatnya bertobat!” kata Dinda sambil tertawa kecil menuju kamarnya. Sedangkan aku tetap di tempat. Menatap langit-langit rumah sambil membetulkan kaca mata. Setelahnya, aku mengambil sebuah buku bertuliskan:

Fenomena Alam di Berbagai Negara

By: Rico Aditya Setiawan

Blog: http://www.ricofansclub.com

            Ya, Rico sekarang sudah menjadi orang yang sukses. Bahkan sangat sukses dan terkenal. Kehidupan telah menempanya menjadi seorang pria yang hebat dan dikagumi. Aku beruntung memiliki sahabat sepertinya. Karenanya, aku bisa sedikit belajar tentang pengalaman, kedisiplinan, dan persahabatan. Ia mengubahku menjadi orang yang lebih kuat dari sebelumnya…

Tiba-tiba, handphone di saku celanaku berbunyi. “Halo?” sahutku. Aku mendengar sebuah suara menyahut perkataanku. Dan kubalas dengan, “oh… Rico. Apa kabar kamu sekarang? Sudah lama kamu tidak menghubungiku…”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s