Oleh: Carolina Agustine

Dahulu kala, sekitar beberapa puluh tahun yang lalu, Belanda menjajah banyak belahan bumi, tak terkecuali Indonesia. Indonesia dijadikannya kota budak. Belanda mengambil banyak keuntungan dari hasil jerih payah Indonesia. Para petani yang berusaha menghidupi keluarganya hanya bisa berpasrah menyerahkan hasil jerih payahnya kepada Belanda. Untungnya Indonesia tak terpecah dan tetap bersatu. Mereka mengadakan banyak perlawanan. Oleh karena itu, di zaman yang sebenarnya damai itu, timbullah perang yang sangat dahsyat di berbagai kota.

Di zaman yang mengerikan itu, di suatu kota kecil, hiduplah sekelompok anak penyandang cacat. Ada yang buta, tuli, dan lumpuh. Mereka adalah anak-anak yang dibuang orang tua mereka hanya karena kecacatan yang mereka miliki. Beberapa manusia berperi kemanusiaan banyak yang datang menolong. Ada yang mengajarkan mereka menulis, membaca, berhitung, dan bernyanyi. Di zaman yang mengerikan seperti itu, nyanyian anak-anak penyandang cacat terdengar bagaikan nyanyian Surga. Maka dari itu, mereka semua membangun sekolah kecil yang mereka beri nama The Voice from Heaven.

Salah satu penyandang autis di sekolah itu adalah Fachri. Fachri tak bisa melakukan apa-apa. Ia hanya bisa bersenandung ringan. Meskipun begitu, guru-guru yang pernah mengajarnya sangat tertarik kepadanya. Anaknya pandai dan bisa menangkap segala ilmu yang diberikan. Namun sayangnya, ingatannya cepat sekali hilang. Untuk yang pertama kalinya, ia pasti bisa melakukan apa yang diperintahkan, tetapi untuk yang kedua kalinya, ia tak bisa melakukannya. Guru-guru banyak yang sudah putus asa mengajarkan apa pun kepada Fachri, karena semua itu hanya bisa ditangkapnya satu kali saja.

Pada suatu malam, Fachri duduk termenung di ambang jendela kamarnya. Ia bersenandung ringan sambil menatap bintang. Ia menatap kosong para bintang-bintang yang dipandangnya. Beberapa anak senang sekali mendengar senandungnya. Senandungnya begitu menenangkan hati.

Keesokan harinya, entah karena apa, seorang gadis Belanda menghampiri sekolah penyandang cacat itu. “Can I teach in here? I’m so interest with this school. It’s amazing! I like it!” katanya. Para guru hanya bisa menatapnya heran. ‘Kenapa ia mau mengajar di sekolah usang ini? Apa yang menarik dari sekolah ini?’ pikir beberapa guru. Karena di sekolah itu dibutuhkan guru yang mengajarkan musik, maka, gadis Belanda itu pun bekerja sebagai guru musik di sekolah itu. Gadis Belanda itu memiliki rambut panjang pirang, kulit yang putih, mata yang biru air, dan paras yang cantik. Saat perkenalan pertama, anak-anak tak mendengarkan kata-kata asing sang guru baru itu, “my name is Victoria Van Hellen”. Karena itu, Hellen menghadap Kepala Sekolah, dan menceritakan seluruh kejadian pagi itu. “They don’t know what you are talking about. Please, turn your language into Indonesian,” kata Kepala Sekolah dengan intonasi dan artikulasi yang cukup jelas. Hellen mengerti apa yang harus dilakukannya. Maka, ia seharian penuh belajar bahasa Indonesia.

“Selamat pagi anak-anak! Saya nama… oh… nama saya adalah Victoria Van Hellen,” kata Hellen tergagap. Ia belum terbiasa dengan bahasa Indonesia yang baru ia pelajari. Hari itu, anak-anak setidaknya mendengarkan perkataan Hellen. Anak-anak bernyanyi dengan riang, tak terkecuali Fachri. Ia sangat senang dengan keberadaan Hellen. Guru yang baik, ramah, cantik pula. Andai Fachri bisa berbicara dengan lancar, mungkin ia akan melontarkan banyak pujian kepada Hellen.

“Fachri, kata teman-teman, kamu sering sekali bersenandung ya? Bahkan katanya senandungmu itu sangat indah, benarkah?” tanya Hellen. Fachri hanya terdiam tak mengerti. Tiba-tiba Bu Dina menyela, “maaf Hellen, Fachri tidak mengerti apa-apa. Saya yang mengajar berbicara saja tak pernah bisa mengajak Fachri berbicara, oh… maaf, mengangguk dan menggeleng saja dia tak bisa”. Entah karena keinginan dan tekad, ataukah karena kecaman Bu Dina, tiba-tiba, Fachri mengangguk dan bersenandung ringan. Bu Dina dan Hellen terkejut. Bu Dina tak menyangka Fachri mengerti ucapan Hellen. Ia hanya bisa mengangakan mulutnya, sedangkan Hellen bertepuk gembira. Ia baru pertama kali itu mendengar senandung yang sangat indah. “Fabulous! That’s beautiful! Awesome and great! Wonderful! Perfect!” ucapnya bertubi-tubi. Fachri tak mendengarkan perkataan asing Hellen, ia hanya bisa tetap bersenandung.

Tak terasa sudah satu bulan Hellen mengajar di sekolah itu. Perlahan tapi pasti, Fachri semakin lama semakin terkagum-kagum pada Hellen yang akhirnya menimbulkan rasa cinta. Fachri kini sudah bisa menulis, berbicara, membaca, dan mendengar dengan lancar, namun tak bisa berhitung. Hellen sangat kaget mendengar kemajuan Fachri. Tak ia rasa, baru satu bulan, Fachri bisa melebihi kemampuan teman-temannya.

Pada suatu siang yang terik, tiba-tiba, terdengar bunyi kereta kuda berjalan menuju ke arah The Voice from Heaven. Seorang pria tampan dan tinggi turun dari kereta kuda itu. Ia berjalan ke arah ruangan Hellen. Fachri melihat hal itu, dan ia mencuri dengar pembicaraan mereka. “Honey, can we go home now? I will marry you in Amsterdam! Not in here!” kata si pria. “Maaf, bukannya kamu bisa berbahasa Indonesia? Kamu kan penagih pajak Land Rent di daerah dekat sini, pasti bisa berkomunikasi memakai bahasa Indonesia bukan?” kata Hellen tak nyaman. Tiba-tiba sang pria menggebrak meja yang ada di dekatnya dan membentak, “kamu ini! Kamu sudah terlalu cinta dengan Negara jajahan kita ini! Kamu sudah dipengaruhi oleh masyarakat sini kan? Makanya apa aku bilang! Kamu sebaiknya tinggal saja di Belanda! Ayo kita pulang! Aku akan menikahimu dengan segera! Di Belanda!”. Fachri kaget mendengar kalimat itu. ‘Ternyata… Van Hellen memiliki seorang kekasih. Oh… betapa bodohnya aku. Mana mungkin gadis secantik Van Hellen belum memiliki kekasih,’ pikirnya. Ia putus asa dan bersenandung ringan di bawah pohon, sedangkan Hellen dan pria itu menghadap Kepala Sekolah.

“Aku akan kembali suatu saat nanti,” kata Hellen di depan pintu gerbang. Ia akan meninggalkan sekolah untuk selamanya. Ia akan menikah dengan orang bernama Van Kroc. Murid-murid hanya bisa menjawabnya dengan tangisan. Tetapi Fachri tak terlihat. Hellen mencoba mencarinya di tengah kerimunan orang-orang, namun tak ada. Maka dari itu, ia pergi tanpa berpamitan dengan Fachri. Saat itu, Fachri sedang belajar di kamarnya. Ia tak ingin meratapi kepergian Hellen dari hidupnya. ‘Guru itu… oh… Miss Van Hellen. Ia lah yang membuatku bisa membaca, bernyanyi, berbicara, dan menulis. Karenanya aku merasa bersemangat untuk meneruskan hidup ini. Aku tak ingin hanya karena dia telah pergi, aku terus bersedih hingga aku terpuruk lagi! Aku harus buktikan kepadanya bahwa aku bisa menjadi seorang yang hebat suatu saat nanti! Aku harus belajar!’ tekadnya.

Beberapa tahun kemudian, Fachri telah dewasa. Ia menjadi sangat jenius. Kini, ia bukan lagi anak autis, melainkan professor termuda di zaman itu. Ia banyak menciptakan tanaman obat-obatan. Karena ia memajukan teknologi Indonesia, ia ditangkap oleh Belanda. Ia dibawa ke Belanda dan dijadikan dosen di sebuah Universitas. Namanya kini telah melambungkan nama Indonesia, karena baru pertama kali inilah, ada seorang Indonesia yang menjadi professor yang bisa mengimbangi kemampuan seorang dosen di Belanda. ‘Ini semua karenamu, Miss Van Hellen. Namamu akan selalu abadi di hatiku sebagai Guruku tersayang…’

Fachri terlihat berdiri dengan wajah sendunya. Berdiri menatap sebuah nisan. Nisan indah berhias bunga. Bunganya masih segar, seperti baru saja diletakkan. Fachri menitikkan air mata. Dilihatnya nisan itu dan dipeluknya. Nisan itu bertuliskan:

R.I.P

Victoria Van Hellen

1887-1939

            Fachri menangisi kepergian sang guru tercinta yang telah dengan segenap hati mengajarkan indahnya musik kepadanya. Guru cantik jelita dengan sikapnya yang ramah kini telah pergi meninggalkan Fachri yang malang. Fachri menghentikan tangisannya. “Aku berjanji akan menjadi lebih sukses dari sekarang! Akan kuraih cita-cita setinggi langit. Karena aku mengagumimu, Miss Van Hellen,” katanya dengan senyum mengembang.

Mungkinkah saat itu, ia yang berada di alam baka menundukkan kepalanya menatap Fachri? Fachri yang dididiknya kini telah dewasa dan menjadi dosen? Mungkin, ia akan menatap Fachri dengan wajah gembira sambil bersenandung kecil dan kembali menuju The Voice from Heaven.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s